Kecantikan Alam Terbuka Di Provinsi Alberta, Kanada
Gerakan separatisme Alberta untuk memisahkan diri dari Kanada semakin menguat. Saat ini, negara bagian Kanada tersebut sudah menyelenggarakan pemberian suara dalam petisi untuk mengadakan referendum dengan tujuan akhir menjadi negara merdeka.
Saat ini, Kanada merupakan negara yang menyatukan dirinya dalam Persemakmuran Britania Raya dan memiliki kepala negara Raja Charles III saat ini.
Menurut peraturan perundangan, apabila telah terkumpul 177.732 tanda tangan petisi sebelum 2 Mei 2026 maka negara harus melakukan suatu referendum. Diperkirakan seandainya berhasil mengumpulkan tanda tangan sebanyak itu, maka referendum kemungkinan diadakan pada tahun 2026 atau 2027.
Apabila hasil referendum adalah pemisahan diri, maka suatu rangkaian perundingan berdasarkan Undang-Undang Kepastian harus dilaksanakan, dan kemungkinan proses itu akan memakan waktu 2 hingga 5 tahun sesudah referendum.
Sejarah separatisme Alberta sesungguhnya sudah berumur panjang. Sejak abad ke XX hingga ke XXI ini berbagai gerakan untuk memisahkan diri dari Kanda sudah kuat. Berbagai kelompok separatisme bahkan mendukung penyatuan atau penggabungan provinsi Kanada bagian Barat dengan Amerika Serikat.

Yang menjadi penggerak utama separatisme ini adalah kedaulatan atas kekayaan yang mereka dapatkan dari sumber daya alam di Alberta.
Uang yang dihasilkan dari berbagai kegiatan komersial dan pertambangan dan industri perminyakan Alberta sangatlah melimpah ruah. Tidak heran, pendapatan besar yang disetorkan Alberta kepada pemerintahan pusat disubsidikan ke provinsi-provinsi lain.
Awalnya gerakan separatisme ini tidak menjadi perhatian utama media massa arus utama karena dianggap remeh, dan hanya gerakan kecil dan tidak berpengaruh terhadap Kanada secara keseluruhan.
Perhatian media arus utama baru terungkit pada saat pemilihan umum daerah selesai pada tahun 2025. Pemenangnya adalah kaum liberal. Partai Liberal sudah memenangkan pemilihan umum daerah mayoritas selama 4 (empat) tahun berturut-turut. Menindaklanjuti kemenangan mereka, maka Komisi Pemilihan Umum Provinsi Alberta menyetujui dikeluarkannya petisi dengan catatan apabila berhasil mengumpulkan tanda tangan warga Alberta, maka hasilnya akan dijadikan keputusan pemisahan diri dari Kanada.
Dengan kemenangan Partai Liberal, maka itu berarti selama 10 tahun berturut-turut, partai tersebut sudah berkuasa. Dengan kata lain, mereka menganggap bahwa pemilih mereka menginginkan suatu kemerdekaan bagi Alberta.
Gerakan Partai Liberal ini juga didukung oleh berbagai pihak di Amerika Serikat yang tergiur dengan kekayaan yang dihasilkan oleh Alberta. Dukungan juga datang dari Kanada Timur yang bahkan ikut menyerukan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar melakukan aneksasi semua provinsi Kanada. Warga Kanada di Alberta banyak yang mendukung gerakan ini karena melihat kemiripan budaya dan koneksi ekonomis yang menguntungkan. Setidaknya, secara mayoritas warga Kanada tidak mendukung impian separatisme ini.
Pada bulan Mei 2025 Jeffrey Rath, seorang pengacara dari Projek Kesejahteraan Alberta (Alberta Prosperity Project atau APP) menyajikan presentasinya kepada kelompok tersebut. Pertanyaan yang terdapat di dalam presentasi itu adalah “Apakah anda setuju Provinsi Alberta menjadi negara berdaulat dan tidak lagi menjadi provinsi di Kanada?” Kelompok ini kemudian mendesak pemerintahan Kanada untuk melakukan referendum pada akhir tahun 2025.
Setelah mengalami proses yang sangat meletihkan, termasuk judicial review berupa penolakan dari pengadilan akan adanya referendum, maka pada 11 Desember 2025 DPRD Alberta mengesahkan Rancangan Undang-Undang Nomor 14. Undang-undang itu melucuti putusan judicial review terhadap permintaan Alberta Prosperity Project untuk referendum.
Pada gilirannya, APP akhirnya mengganti istilah referendum menjadi petisi agar sesuai dengan peraturan di dalam Undang-Undang Kepastian Hukum.
Pada 22 Desember 2025, hanya 11 hari kemudian, Komisi Pemilihan Umum Daerah Alberta menyetujui untuk diadakannya petisi yang dimulai sejak 2 Januari 2026 hingga 2 Mei 2026. Dalam keputusannya, KPUD Alberta menyatakan bahwa apabila warga berhasil mencatatkan 177.732 tandatangan mereka, maka suatu referendum kemungkinan akan dilaksanakan pada Oktober 2026.
Upaya untuk memerdekakan diri ini bukannya tanpa perlawanan dari kelompok dan warga Kanada lainnya. Misalnya Konfederasi Traktat Nomor 6 dari First Nations (suku-suku asli di Kanada yang tidak termasuk dalam golongan suku Inuit dan Mestis) yang mengumumkan mereka akan mengajukan intervensi ke pengadilan terhadap referendum yang sedang digodok di DPRD Alberta. Mereka ingin bersatu padu dengan suku-suku negara yang mengikatkan diri dalam Traktat 7 dan Traktat 8. Kesemua traktat tersebut ditandangani pada abad XIX oleh para wali Kerajaan dengan suku-suku asli di Kanada dalam bentuk tertulis.
Menurut Undang-Undang Kepastian Hukum (Clarity Act) yang mengkodifikasikan berbagai azas hukum yang ditetapkan oleh Mahkaman Agung Kanada dalam hal Pemisahan Diri Provinsi Quebec, mengatur tentang pelaksanaan yang wajib dilakukan oleh provinsi untuk melakukan kemerdekaan. Langkah pertama adalah provinsi menyelenggarakan referendum dengan pertanyaan yang jelas. Jumlah mayoritas yang mendukung referendum untuk memenangkannya tidak disebut, akan tetapi terdapat pengaturan perundingan yang harus dilaksanakan antara pemerintah pusat dan pemerintahan provinsi dengan memperhatikan hak-hak asasi manusia dan hak-hak ulayat suku asli setempat.
Dalam suatu kejutan bak plot suatu film, suku-suku asli setempat Alberta menginginkan agar mereka tidak terpisah dari Kanada karena ingin memastikan kelestarian penghormatan atas hak-hak dan keistimewaan mereka yang dicatatkan di dalam suatu traktat resmi. Kemerdekaan Alberta tidak menjamin Traktat First Nations akan dihormati oleh pemerintahan baru.
Apa yang membuat warga Alberta ingin memerdekakan diri? Alberta merasa bahwa selama bertahun-tahun mereka telah menjadi tulang punggung ekonomi Kanada tetapi pada kenyataannya tidak pernah diprioritaskan atau dihormati dalam keputusan politik di Ottawa. Alberta menganggap mereka telah diperas habis oleh Ottawa untuk menjalankan berbagai kebijakan yang tidak mendukung Alberta.
Pendapatan Asli Alberta yang memenuhi koper bendahara pemerintahan pusat telah dibagi-bagikan ke berbagai penjuru negeri demi mencapai kesamaan upah, peraturan perundangan dan kebijakan yang dipusatkan untuk suatu kondisi perkotaan yang berada jauh dari Alberta. Kebijakan dan perundangan yang didbuat bukan untuk kondisi rural/pedesaan seperti Alberta, dan kebijakan yang membatasi energi, penggunaan dan pengelolaan kawasan serta mengkriminalisasikan industri yang justru membuat negara itu kaya raya. Secara kebudayaan, nilai-nilai warga Alberta juga dipandang sangat ketinggalan zaman dan kolot, sementara metoda pencarian nafkah mereka juga diolok-olok terus menerus.

Secara hitungan ekonomi pendapatan kawasan, Alberta sangat kaya. Ia memiliki cadangan minyak dan gas yang luar biasa jumlahnya. Alberta juga memiliki mineral dan rare earths mineral yang belum diekstraksi. Mereka juga kaya akan hasil kayu, agrikultur dan infrastruktur energi yang luar biasa. Sumber daya manusia mereka juga sangat tinggi dan memiliki keahlian yang mumpuni dalam bidang-bidang di berbagai sektor energi.
Dalam berbagai permintaan kemerdekaan, Alberta menyebut bahwa mereka ingin membangunan negara yang berdasarkan dalam budaya produksi, bukan birokrasi karena mereka menciptakan kekayaan mereka sendiri.
Warga Alberta saat ini sedang dalam proses menyatakan suara mereka dalam petisi yang hasil akhirnya akan terlihat pada 2 Mei 2026. Dan untuk sekarang seluruh dunia hanya bisa turut menunggu hasil petisi provinsi tersebut.
Amerika pun menunggu, kalau memang semuanya berjalan lancar sesuai dengan keinginan mereka, maka kemungkinan mereka akan mendapatkan Greenland dan juga Alberta. Kekayaan keduanya makin memperkaya khazanah kekayaan negara dan kemenangan kebijakan luar negeri mereka. [RV]