Thomas Sankara Presiden Burkina Faso 1983-1987

Ouagadougou – Burkina Faso mendadak jadi viral dan trending pada tahun baru 2026 karena upaya pembunuhan terhadap Presiden Ibrahim Traore. Berbagai kantor berita independen dan media sosial dipenuhi kabar bahwa puluhan ribu warga Ouagadougou dan rakyat Burkina Faso di luar ibu kota turun ke jalan-jalan untuk menunjukkan dukungan mereka. Mereka yang berada di ibu kota bermaksud untuk menjadi tameng hidup bagi pemimpin mereka.
Tetapi sebelum mengikuti pemberitaan tentang Traore yang menggerakkan kesetiaan ratusan ribu rakyatnya itu, kita perlu mengetahui dasar dan fondasi dari Burkina Faso yang berada di Afrika Barat.
Pada dasawarsa 1980an Burkina Faso memiliki seorang presiden bernama Thomas Isidore Noel Sankara yang memiliki visi bahwa negaranya akan mencapai kemakmuran yang didapatkan dari kekayaan sumber daya alamnya. Namun, upayanya untuk mencapai kemakmuran tersebut terpotong di tengah jalan karena ia dibunuh oleh orang kepercayaannya sendiri.

Sankara lahir pada di Yako, Upper Volta Prancis pada 21 Desember 1947 dari keluarga polisi. Ayahnya seorang anggota polisi bersenjata api (gendarme) Joseph Sankara dan ibunya adalah Marguerite Sankara. Keduanya merupakan warga suku di Upper Volta.
Sebagai anak ke tiga dari 10 orang kakak beradik, Sankara mempelajari banyak hal, utamanya bahwa penjajahan adalah kondisi yang tidak adil. Oleh sebab itu ia menginginkan adanya dekolonisasi, swasembada, serta keadilan sosial. Ideologinya terbentuk dari pengalaman hidup dan tentu dari orang tuanya. Kelak ideologinya disebut sebagai Sankarisme yang memfokuskan diri untuk mentransformasikan negaranya dari suatu tanah jajahan yang sangat rentan menjadi suatu negara yang bermartabat dan merdeka.
Setelah merdeka pada tahun 1960, Upper Volta bukannya mengalami perbaikan, akan tetapi hanya berpindah tuan. Para penguasa Upper Volta yang disebutkan dipilih secara non-demokratis pada kenyataannya tidak melakukan mandat mereka. Tidak mengherankan kalau di negara yang masih muda itu terjadi berbagai perebutan kekuasaan, utamanya dengan Prancis sebagai pihak berwenang untuk merestui siapa yang berkuasa.
Negara dan bangsa tersebut bergulat dengan identitasnya sebagai suatu kesatuan serta berupaya membangun kemampuan untuk melakukan pemerintahan yang mandiri. Tetapi pada saat yang sama Upper Volta sangat tergantung kepada Prancis untuk berbagai aspek kehidupannya.

Salah satu yang paling menonjol adalah penggunaan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi Upper Volta. Aspek lainnya adalah peraturan perundang-undangan yang masih menggunakan peraturan Prancis. Tak perlu disebutkan kondisi di bidang komunikasi, pendidikan dan sastra. Para elit politik Upper Volta dan para senimannya kesemuanya menuntut ilmu ke Prancis.
Ketergantungan dan tali temali antara Upper Volta sudah tentu juga terjadi di bidang ekonomi dengan Prancis sebagai pihak yang memberikan nasehat (dengan kepentingan mereka sendiri yang diprioritaskan), menyediakan bantuan finansial untuk pembangunan infrastruktur (dengan struktur pembayaran yang berlapis), juga kesehatan dan pendidikan. Perusahaan-perusahaan Prancis juga menguasai sektor pertambangan di Upper Volta, utamanya pertambangan emas yang merupakan industri besar di negara Afrika Barat tersebut.
Semua ditambahkan dengan kehadiran fisik militer Prancis secara terus menerus dan bahkan dapat dikatakan secara permanen di dalam negeri. Hal ini menyebabkan ada dualisme dalam sistem pertahanan keamanan Upper Volta.
Prancis berdalih bahwa keberadaan militer mereka di Upper Volta adalah untuk memerangi terorisme di kawasan Afrika Barat yang membutuhkan koordinasi lintas negara. Namun, bagi banyak kaum nasionalis di Upper Volta, keberadaan pasukan Prancis tersebut justru merupakan kepanjangan tangan kebijakan neo-kolonialisme.
Prancis tentu tidak ingin melepaskan Upper Volta karena kekayaan yang berada di dalamnya. Para insinyur Prancis sudah mendeteksi bahwa Upper Volta memiliki cadangan emas dan kemampuan memproduksi yang berada dalam ranking ke-4 dunia. Mineral lain yang terkandung di Upper Volta tetapi belum dapat dikelola adalah manganese, seng (zinc), dan perunggu. Sementara itu, mineral untuk sektor industri seperti limestone, tanah liat, granit dan fosfat juga tersedia dalam jumlah besar.

Upper Volta juga mengandung mineral yang memiliki nilai strategis seperti lithium (untuk pembuatan baterai) serta REE (rare earth elements) yang sekarang menjadi bahan baku untuk pengembangan teknologi industri elektronik, membangun industri energi terbarukan, industri otomotif, industri kimia, dan industri kesehatan. Semua kekayaan tersebut juga mencakup tambang berlian, boxit, nikel, vanadium dan kesemuanya belum terekstrasi.
Pada zaman Sankara tumbuh dewasa, kesemua kekayaan mineral itu baru dapat dikenali dalam tahap awal. Sebagai putra seorang polisi, Sankara termasuk anak yang memiliki kesempatan luas untuk mendapatkan pendidikan. Nilai-nilai matematika dan bahasa Prancisnya sangat tinggi. Selain itu Sankara adalah seorang pemeluk Katolik yang taat. Para gurunya mengusulkan kepada orang tuanya agar Sankara dimasukkan ke seminari dan selanjutnya melayani sebagai orang rahib Katolik.
Namun, saat lulus kelas 6 SD, Sankara mendaftarkan diri ke sekolah sekuler. Selanjutnya ia masuk asrama dan mengikuti pendidikan di lycee (sekolah menengah) di Bobo-Dioulasso yang merupakan kota komersial yang sangat dinamis. Di sekolah itu ia mulai berteman dengan Fidele Too yang kelak menjadi menteri di dalam kabinetnya dan Soumane Toure yang merupakan teman seperjuangan.
Saat Sankara berusia 17 tahun ia masuk ke akademi militer Kadiogo sebagai angkatan pertama. Di sana ia mendapatkan pendidikan dari para profesor sipil yang mengajarkan sejarah dan geografis. Ajaran ini membuat Sankara mampu melihat posisi negaranya dalam konteks dunia. Selama pendidikannya, Sankara dan teman-temannya melihat pasang surut kudeta di negara mereka. Salah satunya yang paling awal adalah kudeta oleh Letnan Kolonel Sangoule Lamizana.
Sankara menjalani kariernya sebagai seorang perwira angkatan darat dengan berbagai pengalaman pertempuran dan pendidikan di negara asing.
Seiring dengan kenaikan pangkatnya, reputasi Sankara juga mulai terbentuk. Pada tahun 1981, Sankara ditunjuk sebagai Menteri Informasi di dalam kabinet Presiden Saye Zerbo yang saat itu berkuasa. Sebagai menteri, Sankara sangat sederhana. Setiap hari ia berangkat bekerja dengan naik sepeda. Ia juga mendukung jurnalisme investigatif dan mempersilakan media untuk mencetak berita apa pun sesuai dengan kedudukannya sebagai Menteri Informasi.
Akibatnya para wartawan media swasta mau pun wartawan media milik pemerintah mampu menyebarluaskan berbagai berita yang penuh skandal di dalam negeri. Setahun kemudian, Sankara mengundurkan diri akibat kecenderungan pembredelan media oleh pemerintah. Ucapannya yang terkenal adalah, “Nasib buruk mengikuti pihak yang mencengkeram rakyat!”
Pada November 1982, terjadi kudeta yang dipimpin oleh seorang mayor, Doktor Jean-Baptiste Ouedraogo. Penguasa baru ini menunjuk Sankara menjadi Perdana Menteri pada Januari 1983. Tetapi tak lama kemudian, pada 17 Mei, Sankara dicopot dari jabatannya akibat pahamnya yang keras anti-kolonialisme baru. Sehingga posisinya tak mau kompromi ini malah merongrong Ouedraogo untuk mengganti kebijakannya dengan yang lebih progresif. Tidak heran, Ouedraogo menjadi gerah terhadap tingkah laku perdana menterinya dan kemudian menjebloskan Sankara ke dalam penjara sebagai pesakitan.

Keputusan untuk memenjarakan Sankara ini fatal bagi Ouedraogo. Sankara merupakan tokoh berpengaruh yang memiliki pendukung di kalangan militer muda Burkina Faso. Momentum ini membuat sahabat Sankara di kemiliteran, Compaore, segera berkonspirasi di antara kawan-kawannya di ketentaraan untuk melakukan tindakan kudeta.
Sampai akhirnya tibalah saat yang menentukan. Blaise Compaore memimpin kudeta militer dengan menurunkan Presiden Jean-Baptiste Ouedraogo pada tahun 1983. Semua pihak yang mendukung kudeta meminta dan selanjutnya mengangkat Sankara menjadi presiden yang berkuasa.
Saat Sankara mulai berkuasa pada tahun 1983, hal pertama kali yang dilakukannya adalah mengganti nama Upper Volta Prancis yang diberikan penjajahnya dengan menamakan negerinya sebagai Burkina Faso, Burkina Faso adalah bahasa setempat yang berarti Tanah Kaum Yang Jujur (Land of the Upright Man).
Selama 4 tahun berikutnya Thomas Sankara berhasil melakukan hal-hal di bawah ini:
- Memvaksinasi 2.5 juta anak-anak Burkina Faso dengan vaksin meningitis, demam kuning dan campak dalam jangka waktu beberapa minggu saja;
- Membangun 350 sekolah baru;
- Melakukan kampanye literasi secara nasional sehingga meningkatkan tingkat literasi bangsanya dari 13% pada tahun 1983 menjadi 73% pada tahun 1987;
- Menanam 10.000.000 pohon untuk menghentikan laju meluasnya padang pasir;
- Membangun jalan dan kereta api di seluruh negerinya tanpa bantuan asing (Prancis);
- Menurunkan gajinya sebagai presiden sehingga hanya berjumlah USD450 per bulan, dan membatasi kekayaannya dengan hanya memiliki satu mobil, 4 sepeda, 3 gitar, lemari es dan mesin pembeku yang rusak;
- Menjual semua mobil dinas mewah bermerk Mercedez milik pejabat untuk menambahkan dana dalam kas negara, dan menetapkan Renault 5 (harga mobil termurah di Burkina Faso) sebagai mobil dinas para Menteri;
- Mengurangi gaji para ASN (aparatur sipil negara), termasuk dirinya sendiri, serta melarang penggunaan sopir dinas, serta pelarangan terbang dalam kelas satu bagi para pejabatnya;
- Mewajibkan semua ASN untuk membayar sebesar 1 bulan gaji mereka untuk membantu proyek strategis negara;
- Mengeluarkan peraturan agar para ASN menggunakan tunik tradisional Burkina Faso dalam penampilan sehari-hari. Tunik tersebut ditenun dari katun dan dijahit oleh para pengusaha dalam negeri dan dengan demikian meningkatkan kesadaran identitas bangsa sekaligus membangun industri UMKM Burkina Faso;
- Mengangkat pejabat-pejabat perempuan dalam berbagai posisi di Kementerian dan institusi negara, memastikan mereka untuk berani mengambil kesempatan bekerja, merekrut mereka masuk ke dalam militer serta memberikan cuti kehamilan. Sankara terkenal dengan ucapannya bahwa suatu negara tidak akan pernah maju apabila mengkungkung kaum perempuannya;
- Melarang sunat terhadap anak-anak perempuan, perkawinan paksa dan poligami;
- Membentuk unit Paspampres (pasukan pengamanan presiden) yang terdiri dari para tentara wanita yang diperlengkapi sepeda motor;
- Membagikan tanah yang selama ini dikuasai oleh para tuan tanah dan memberikan tanah-tanah langsung kepada para petani;
- Meningkatkan swasembada pangan, salah satunya menghasilkan gandum yang awalnya hanya 1.700 kilogram per hektare menjadi 3.800 kilogram per hektare dan pada 1987 berhasil swasembada pangan;
- Menolak bantuan asing untuk pangan. Sankara terkenal dengan filosofinya bahwa “pihak yang memberi makan kepadamu, adalah pihak yang mengendalikanmu.”;
- Menyerukan persatuan di antara negara-negara Afrika untuk menghapuskan hutang kepada negara dan lembaga asing, karena negara yang miskin dan tereksploitasi tidak memiliki kewajiban kepada pihak yang kaya dan mengeksploitasi negara mereka;
- Menolak penggunaan mesin pendingin ruangan di kantornya karena baginya hal itu adalah kemewahan sementara rakyatnya masih sengsara;
- Mengubah toko angkatan darat yang terkenal di Ouagadougou menjadi badan usaha milik negara yang terbuka bagi semua orang sehingga menjadi supermarket pertama di Burkina Faso;
- Menolak potretnya dipasang di berbagai kantor pemerintahan dan sekolah sebagaimana layaknya para pemimpin Afrika karena “Ada 7 juta Thomas Sankara lainnya” yang artinya ia sama saja dengan rekan-rekan senagaranya dan tidak perlu memujanya sebagai pemimpin;
- Sebagai seorang pemain gitar yang handal, Sankara juga membuat komposisi lagu nasional Burkina Faso.
Semua prestasi tersebut dilakukannya pada saat yang bersamaan dengan berbagai gejolak politik dan intrik dalam negeri yang sangat memberatkan, serta mempertahankan kedaulatan negaranya dalam penanganan perkembangan politik kawasan Afrika.
Untuk menangani dan mengelola gejolak kawasan Afrika Barat tempat Burkina Faso berada, Sankara memberdayakan kembali Conseil de l’Entente atau Dewan Persatuan Kawasan Afrika Barat yang sudah terbentuk sejak 1959 tetapi nihil prestasi.
Sebagai pendiri Dewan Persatuan Kawasan Afrika Barat ini, Burkina Faso mengajak negara-negara Benin, Pantai Gading, Niger dan Togo. Tujuan pendirian perkumpulan negara-negara ini adalah untuk menegakkan integrasi kesatuan langkah bagi kesemua anggota, baik dalam hal pengambilan keputusan politik, mau pun memperkuat kerja sama ekonomi dan sosial melalui dialog, kerja sama keamanan, pembangunan infrastruktur serta penanganan terorisme.
Namun, perkembangan politik negara Burkina Faso semakin tidak menentu. Compaore yang awalnya mendukungnya menjadi presiden Burkino Faso dan menjadi sekutunya yang kuat, mendadak melakukan hal tak terpikirkan yakni meracik pengkhianatan.
Pada tahun 1987, atau 4 tahun sejak Compaore melakukan kudeta, orang yang sama mengadakan pengambil-alihan kekuasaan terhadap sahabatnya. Bedanya, saat mengambil alih kekuasaan dari Sankara, Compaore memerintahkan kekerasan sebagai metoda eksekusi.
Dari berbagai rekam jejak, Sankara sudah mendapatkan informasi akan upaya pembunuhannya, baik dari kepolisian mau pun dari kementerian pertahanan. Tetapi ia menganggap hal itu tidak mungkin dilakukan karena Compaore adalah sahabatnya yang puluhan tahun berada di sisinya.

Dalam penyergapan yang dilakukan dan diperintahkan oleh Compaore, Sankara sedang mengadakan rapat bersama 12 orang pejabatnya yang menjabat di Conseil de l’Entete atau Dewan Persatuan Kawasan Afrika Barat yang juga bangunan Dewan Revolusionaris Nasional.
Sankara ditembak dari belakang dalam jarak dekat, dan ia gugur pada pada 15 Oktober 1987. Gugur juga ke 12 orang pejabat Burkina Faso yang sedang mengadakan rapat bersamanya.
Compaore menguburkan jenazah mantan sahabatnya itu ke dalam liang lahat yang tidak diberikan nisan atau penanda di suatu tempat yang terpencil di pinggiran ibukota.
Selanjutnya, sesuai dengan skenario yang dibuatnya bersama pihak asing seperti Liberia dan Prancis, Compaore naik menjadi presiden dan bertindak sebagai penguasa absolut selama 27 tahun. Dalam masa pemerintahannya, ia membatalkan keputusan Sankara dalam berbagai sektor, utamanya berbagai keputusan Sankara terhadap perusahaan pertambangan yang sudah dinasionalisasikan oleh almarhum.
Istri dan anak-anak Sankara melarikan diri dari Burkina Faso. Permintaan mereka untuk mengetahui keberadaan jenazah kepala keluarga mereka selalu ditolak oleh presiden tersebut.
34 tahun setelah memerintahkan pembunuhan terhadap sahabatnya dan sesudah mengeruk kekayaan Burkina Faso, Compaore dibawa ke mahkamah militer negara secara in-absentia untuk mempertanggungjawabkan kejahatannya. Persidangan pertama terjadi pada bulan April 2021. Setahun kemudian, 6 April 2022, Compaore dan dua orang lainnya dijatuhi hukuman pidana seumur hidup. Sementara 8 orang kaki tangannya menerima hukuman pidana 3 hingga 20 tahun di penjara.
Selama puluhan tahun, makam Sankara tidak diketahui keberadaannya oleh umum sampai pada tahun 2015. Sepanjang Joseph Sankara masih hidup, Compaore tidak pernah mau menjawab dimana letak makam Sankara apabila ayah Sankara bertanya dimana keberadaan makam putranya. Padahal Joseph juga ikut membesarkan Compaore pada masa kecilnya. Compaore mendapatkan perlakuan baik dari keluarga Sankara karena ia menjadi yatim piatu saat masih remaja.

Terobosan informasi mengenai letak makam Sankara didapatkan pada saat Compaore sudah diturunkan secara paksa dari kekuasaan. Para kuasa hukum Sankara, atas nama keluarga almarhum, meminta izin kepada pemerintah untuk membongkar makam tokoh nasional tersebut. Tetapi saat itu Compaore telah melarikan diri ke Pantai Gading sesudah dikudeta pada 2014.
Setelah sisa kerangka yang ditemukan di dalam makam diuji dengan tes DNA, diketahui bahwa Sankara meninggal dengan lusinan peluru menembus tubuhnya. Kerangka Sankara kemudian dikebumikan kembali dengan sederhana. Namun, kali ini makam itu ditandai dengan nisan sederhana yang memberikan penanda bagi tempat peristirahatan terakhir sang presiden Burkina Faso.
Kesederhanaan ini berlangsung sampai naiknya seorang pria yang lahir pada tahun 1988 ke atas panggung nasional dan internasional sebagai presiden.
Pada tahun 2025 sang presiden ini memerintahkan pemindahan makam mendiang Presiden Sankara ke pemakaman yang khusus dibangun untuknya, tepat di mana ia pralaya, yakni di area bekas markas Dewan Revolusionaris Nasional.
Sankara ditetapkan oleh sang presiden muda sebagai Pahlawan Nasional. Pemakaman ulangnya dilakukan dengan upacara kenegaraan lengkap yang dipimpin kepala negara Burkina Faso di Mausoleum Thomas Sankara bersama 12 orang yang gugur bersamanya pada tahun 1987. Nama presiden muda itu adalah Ibrahim Traore. [RV]
