Gubernur Minnesota Tim Walz Yang Dipinang Oleh Kamala Harris Untuk Mencalonkan Diri Sebagai Pasangannya Dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024. Asosiasi Gubernur Negara Bagian Amerika Serikat
Minnesota – Akhir tahun 2024, Tim Walz berkilauan mendampingi Kamala Harris sebagai Calon Wakil Presiden mewakili Partai Demokrat Amerika Serikat. Keputusan Kamala Harris untuk memilih Tim Walz banyak dipertanyakan para simpatisan Demokrat sendiri. Tetapi posisi Harris sebagai kandidat dari partai pun juga banyak dipertanyakan. Pencalonannya diputuskan oleh para Pengurus Pusat Partai Demokrat dan bukan melalui Kongres Pertemuan Partai Demokrat.
Para pendukung Kamala dan Tim adalah tokoh-tokoh senior seperti Presiden Amerika Serikat yang ke 43 dan 44, Barrack Obama. Dengan dana kampanye sebesar USD1.5 miliar dari para donator dan sponsor Partai Demokrat, Kamala dan Tim gagal masuk ke Gedung Putih. Kekalahan mereka setelah menjalankan kampanye yang sangat mahal menjadi catatan tersendiri bagi para pendukung pasangan Harris-Walz dan bagi Partai Demokrat.
Kamala Harris sendiri sempat kesal melihat kekurangan dan ketidaksiapan Walz dalam debat terbukanya dengan (waktu itu) kandidat wakil presiden JD Vance.
Kamala menyatakan bahwa Walz merasa tidak enak hati karena “tidak melakukan perdebatan itu dengan lebih baik”. Selanjutnya Harris mengatakan “Dalam memilih Tim, saya berpikir sebagai seorang gubernur dalam periode ke duanya dan setelah menjadi anggota kongres selama 12 tahun, (Tim) memahami akan apa yang dihadapinya.” Harris menutup kekecewaannya dengan menulis, “Kalau dipikir-pikir, siapa yang akan paham?”
Kejatuhan Tim Walz dari posisinya sebagai politikus tingkat nasional yang sempat berkampanye dalam pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2024 ke posisinya yang terpuruk sekarang ini merupakan kisah klasik kegagalan itu tersendiri.
Saat ini, perkembangan politik di tingkat negara bagiannya dan tingkat nasional membuat ia mengundurkan diri dari pencalonan sebagai gubernur Minnesota untuk yang ke tiga kalinya.
Di Gedung Senat di Washington, Walz menyatakan alasan pengunduran dirinya. Ia menyalahkan tingginya perhatian yang difokuskan kepada dirinya sangat negatif.
“Setiap menit yang aku gunakan untuk mempertahankan kepentingan politikku sendiri merupakan waktu yang dapat aku gunakan untuk membela kepentingan warga Minnesota dari serangan para penjahat yang menggunakan kemurahan hati kita selain menghadapi para kaum sinis yang ingin memangsa perbedaan kita,” ujarnya.
“Sehingga aku memutuskan untuk keluar dari pertarungan ini, dan aku akan mempersilakan orang lain bertarung dalam pemilihan kepala daerah, sementara aku akan memfokuskan diri terhadap pekerjaan yang kuhadapi hingga tahun depan,” pungkasnya.
Kondisi Minnesota sendiri tidak kondusif bagi Walz akibat dua hal yakni tewasnya Melissa Hortman dari Partai Demokrat yang sempat digadang-gadang menjadi gubernur Minnesota, serta terbongkarnya berbagai pemalsuan dan kecurangan yang menggerogoti layanan kesehatan dan kesejahteraan dalam tingkat setempat mau pun tingkat nasional.
Pembunuhan terhadap Ketua DPRD Minnesota Melissa Hortman pada 14 Juni 2025 oleh kaki tangan yang diketahui bekerja untuk Walz membuat posisi Walz semakin buruk.

Melissa, Ketua DPRD Minnesota, adalah satu-satunya anggota Partai Demokrat yang memberikan suara di Senat pada waktu voting 10 Juni 2025 untuk membatalkan layanan kesehatan gratis untuk para imigran ilegal di Minnesota. Polisi menyatakan bahwa Senator Melissa Hortman dan suaminya serta anjing kesayangannya ditembak di rumahnya sendiri. Pembunuh Melissa, Vance Boelter, saat ini sedang dituntut dengan 6 gugatan yang berlapis di Minnesota.
Diketahui bahwa sebelum menembak Melissa dan suaminya, Boelter telah menembak Tom Hoffman, anggota Senat dari Partai Demokrat, dan istrinya di rumah mereka. Hoffman ditembak sebanyak 9 kali, sementara istrinya Yvette ditembak 8 kali. Keduanya sempat dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan. Hoffman telah kembali ke ranah publik pada 25 Agustus 2025. Hoffman ditembak karena afiliasinya dengan partai lain seperti Partai Buruh dan Partai Petani, demikian keterangan Boelter.
Tetapi Walz berdalih bahwa dahulu ia menganggap Hortman bisa menjadi penggantinya sebagai gubernur. Setelah Hormat tewas, Walz menjadi semakin gagap dalam menghadapi pilihan apakah akan maju menjadi gubernur untuk yang ke tiga kalinya atau mempersilakan orang lain dari partainya untuk mencalonkan diri.
Perkara skandal pemalsuan atau kecurangan yang terjadi di Minnesota diperkirakan mencapai USD9 miliar. Angka fantastis itu adalah akibat kecurangan yang telah terjadi selama bertahun-tahun. Video yang diunggah oleh Nick Shirley, seorang Youtuber muda, semakin memanaskan perhatian para penegak hukum terhadap kejadian di negara bagian tersebut.
Setelah video Nick Shirley tersebut viral, dan ia dipanggil ke Washington untuk memberikan keterangan, pemerintahan Presiden Trump menghentikan semua pendanaan terhadap PAUD di Minnesota.
Pada saat yang sama, Kementerian Pelayanan Kesehatan dan Kesejahteraan mengumumkan berbagai perubahan yang berlaku bagi semua negara bagian untuk menyerahkan laporan PAUD yang didukung oleh Medicaid (dana dari pemerintahan pusat), termasuk memberikan bukti-bukti yang mendukung dan tanda terima serta bukti foto sebelum Pemerintah Pusat mengirimkan uang kepada negara bagian.
Kemungkinan kecurangan dan pemalsuan ini sudah diendus oleh berbagai pihak penegak hukum sejak beberapa tahun lalu, bahkan sejak tahun 2021. Saat itu pemerintah pusat (Federal) sudah menyidik skema kecurangan yang berjumlah belasan juta. Tidak mengherankan, 92 orang telah digugat dengan 62 telah diputus bersalah saat tulisan ini dibuat.

Walz juga menghadapi kritikan pedas baik dari dalam dan luar Minnesota atas caranya mengelola krisis kecurangan ini. Gubernur ini mengakui bahwa besarnya angka kecurangan mencapai angka miliaran dollar walau pun ia menolak angka USD9 miliar yang dipresentasikan oleh para jaksa penuntut.
Video Nick Shirley yang menjadi viral hanya berkaitan dengan satu bagian dari kecurangan yang diperkirakan terjadi di Minnesota.
Para penyidik Federal (pemerintah pusat) menyatakan bahwa kasus PAUD hanya salah satu prioritas kecil mereka. Mereka lebih menekankan pada berbagai perkara yang berkaitan dengan lusinan program layanan yang mencakup kesehatan, perumahan dan kesehatan mental.
Pada saat pandemi COVID, para penegak hukum memperkirakan ada kecurangan yang mencapai nilai USD250.000.000 di sektor makan gratis. Sekarang kasus ini sudah memiliki tersangka sebanyak 75 orang yang berkisar di sebuah lembaga non-komersial bernama Feeding Our Future.
Institusi ini menyatakan bahwa mereka bekerja sama dengan berbagai restoran dan usaha boga untuk membagi-bagikan makanan ke sekolah dan program-program eksrakurikuler. Tetapi lembaga ini tidak pernah melaporkan bukti pengeluaran selain hanya mengajukan tagihan-tagihan dan jumlah makanan yang menurut mereka sudah dikeluarkan, yang jumlahnya mencapai jutaan dalam bentuk fee dan kickback dari pihak-pihak yang mendistribusikan makanan itu ke berbagai alamat.
Pendiri Feeding Our Future, Aimee Bock sudah dijatuhi hukuman melalui keputusan pengadilan pada awal 2026. Demikian juga mereka yang membantunya dalam skema ini.
Pejabat Minnesota sesungguhnya sudah sempat menyelidiki laporan-laporan dari Feeding Our Future. Mereka juga sudah memperlambat pembayaran penggantian biaya dari yang diakui oleh organisasi tersebut sebagai biaya aktual distribusi makanan.
Feeding Our Future melawan balik dengan membuat gugatan kepada kantor kas negara bagian dengan menyatakan bahwa para pejabat Minnesota telah melakukan diskriminasi rasial terhadap organisasi tersebut. Akibat gugatan ini, para pejabat keuangan Minnesota menjadi mundur karena ragu “terhadap konsekuensi legal dan pemberitaan negatif dari media massa.”
Untuk pemalsuan yang dilakukan dalam Program Autisme, yakni program Minnesota untuk anak-anak yang mengidap autism, ada berbagai kasus tersendiri.
Saat ini ada 2 (dua) terduga yang memalsukan program yang berkaitan dengan layanan bagi anak-anak yang menderita autisme. Keduanya memperkerjakan pihak-pihak yang mengaku sebagai ahli perilaku tetapi tidak memiliki sertifikat. Mereka juga mendapatkan uang dari para orang tua yang telah menyetujui untuk “mendaftarkan” anak-anak mereka dalam program ini. Dalam beberapa kasus, para orang tua ini bahkan membayar uang kickback sebesar USD1.500 kepada dua orang terduga tadi.
Salah satu dari tergugat dari program autisme ini juga memiliki keterkaitan dengan pendistribusian makanan di kasus Feeding Our Future. Tergugat ini sudah mengaku bahwa ia telah melakukan pelanggaran pada bulan Desember 2025. Secara keseluruhan, ada 14 layanan Medicaid yang sedang diaudit oleh para penyidik dan masuk dalam kelompok pemalsuan dan kecurangan dengan “risiko tinggi”.

Ada pula kasus yang terjadi dalam program penyediaan perumahan bagi kaum lansia dan kaum difabel. Para pejabat Minnesota menemukan “pemalsuan dalam jumlah yang besar”.
Para Jaksa Federal telah menggugat 8 (delapan) orang yang melakukan pemalsuan di dalam program ini. Pemalsuan ini terkait dengan layanan kesehatan pemerintah daerah bernama Medicaid. Para tersangkanya mencatatkan diri sebagai penyedia perumahan dan mereka menyerahkan tagihan yang “palsu dan dengan jumlah yang telah digelembungkan”. Lima orang lainnya mendapatkan gugatan karena mereka menolak membayar kewajiban mereka untuk penyediaan rumah.
Kecurangan di bidang program perumahan bagi lansia dan difabel ini mudah dipalsukan karena dirancang untuk mudah diikuti dengan “tingkat persyaratan yang rendah untuk keikutsertaan” dan jarang pula menagihan bukti pembiayaan. Para Jaksa Federal menyatakan bahwa dari tahun ke tahun jumlah peserta kemudahan ini terus menerus meningkat, dengan pendanaan yang semula USD2.600.000 saja menjadi USD100.000.000 per tahun.