Ilustrasi AI Tentang Tentara Kekaisaran Tiongkok Berhadapan Dengan Tentara Mongolia.
Catatan dari pihak Dinasti Jin dari Kekaisaran Tiongkok menyebutkan bahwa ada perbedaan besar antara balatentara Mongol dengan bala tentara mereka. Hal ini tercatat dengan baik dalam kronika Tiongkok pada abad XIII.
Buat para cerdik cendekia dari Dinasti Jin, kaum Mongol yang menyerang dengan agresif dari utara itu adalah kaum barbar. Mereka semua mengendarai kuda perang mereka dan menyapu ke arah selatan dengan ugal-ugalan dan tidak layak untuk memenangkan peperangan, menurut perhitungan Dinasti Jin.
Pada kenyataannya, balatentara Mongolia mampu menghempaskan pertahanan Dinasti Jin. Catatan pertama adalah pasukan Mongolia tidak memiliki kereta-kereta logistik. Mereka hanya datang dengan perlengkapan perang dan tenda mereka. Tidak ada logistik seperti pada umumnya praktek ratusan tahun dinasti-dinasti sebelumnya di Tiongkok. Logistik adalah salah satu faktor utama dari angkatan perang kekaisaran Tiongkok.
Tetapi suku bangsa barbar yang terkenal sebagai suku Mongolia ini melakukan penaklukkan demi penaklukan tanpa kereta-kereta logistik dengan beras atau gandum untuk konsumsi mereka. Angkatan perang itu hanya terdiri dari rombongan pasukan yang terdiri dari para kesatria perang, kuda, dan kantong-kantong kulit berisi daging yang diawetkan dan susu kuda betina yang terfermentasi.
Seorang pencatat dari Tiongkok menuliskan bahwa “Kaum barbar itu mendirikan perkemahan mereka tanpa api unggun sama sekali. Mereka tidak perlu api untuk memasak, sehingga tidak ada satu asap api unggun dari ribuan tenda mereka. Mereka makan makanan mereka dalam kondisi dingin (tidak perlu memasak) dan langsung berangkat berkuda sebelum terang tanah.”
Para tentara Tiongkok yang terdiri dari para penghuni desa memiliki tradisi dan logistik yang berbeda sama sekali dan memerlukan upaya suplai ulang secara teratur. Sebagai warga desa mereka memerlukan beras, millet (tekoi), sayur mayur, peralatan-peralatan memasak, dan kayu bakar.
Sebagai suatu kesatuan angkatan perang, diperkirakan 100.000 orang pasukan Dinasti Jin akan memerlukan kereta berisikan logistik yang mengular di belakang pasukan perang dengan panjang berkilo-kilometer. Para anggota pasukan tersebut harus memasak dan beristirahat serta makan 3 kali sehari. Sementara pada saat yang sama lawan mereka tidak perlu berhenti sama sekali.
Antropolog Jack Weatherford menyebutkan bahwa para cendikawan yang menulis kronika dari Tiongkok itu teliti mencatat tetapi anehnya tidak memahami apa yang mereka catat.
“Orang Tiongkok mencatat dengan rasa terkejut dan jijik terhadap kemampuan para kesatria Mongolia untuk bertahan hidup hanya dengan sedikit makanan dan air dalam jangka waktu lama. Kaum Mongolia hanya mengkonsumsi daging, susu, yogurt, dan produk dairy lainnya secara terus menerus dan mereka harus bertempur dengan kaum yang makan cairan bubur dari berbagai tumbuhan biji-bijian. Pola makan biji-bijian ini menghentikan pertumbuhan tulang para kesatria petani (Tiongkok) ini, yang merusakkan gigi mereka, dan membuat mereka lemah dan rentan terhadap penyakit. Berbanding terbalik dengan tentara Mongolia yang paling miskin sekali pun yang hanya makan protein, dan karenanya memiliki gigi-gigi dan tulang yang kuat,” tulis Weatherford.
Secara fisik, ke dua pihak yang berperang itu memiliki perbandingan tinggi yang hampir sama. Tengkorak dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa rata-rata orang Mongolia memiliki tinggi badan 160-170 cm, sementara bangsa Han dan Jurche yang menjadi tulang punggung kekaisaran Tiongkok adalah 163-170 cm.
Tetapi dari kerangka yang ditemukan dari penggalian arkeologis, para kesatria Mongolia memiliki gigi-gigi yang sangat kuat dan mampu memotong ransum daging kering mereka secara efisien. Kepadatan tulang mereka memampukan mereka untuk selamat jatuh dari kuda yang sedang belari dalam kecepatan penuh dan meneruskan pertempuran.
Sementara itu, infantri Tiongkok rata-rata memiliki tubuh yang lemah, gigi yang sudah masuk proses pembusukan pada usia 25 tahun ke atas, serta mengalami kelelahan setelah setengah hari melakukan mars. Mereka butuh diberikan makan teratur agar mampu berfungsi dan mereka butuh api untuk memasak bahan pokok makanan mereka. Dan satuan angkatan perang itu memerlukan waktu untuk beristirahat.
Sejarah mencatat bahwa bangsa Mongolia akan berhasil menaklukkan wilayah terbesar dalam sejarah peradaban dari Semenanjung Korea hingga Daratan Eropa. Sementara lawan mereka taat pada peraturan piramida makanan dan kehilangan pengaruh kekuasaan mereka di daratan Tiongkok.

Pelajaran dari hal ini adalah mencatat dan mengetahui banyak hal sama sekali tidak berarti yang mencatat akan mampu memberikan solusi. Para cendekia Tiongkok kuno itu mencatat secara kronologis semua yang terjadi dan karenanya secara tak sengaja mencatat tahap demi tahap kekalahan mereka secara live tanpa pernah mengetahui mereka telah memasuki periode dimana mereka adalah pihak yang kalah.
Kekalahan pihak Dinasti Jin secara garis besar adalah kekalahan biologis. Sejak mengalami serangan Mongolia pada 1220, kekaisaran Jin jatuh pada tahun 1234. Mongolia tidak hanya mengalahkan mereka dalam perkara ketajaman militer, tetapi juga mengalahkan suku bangsa Han dan Jurche (warga kekaisaran Dinasti Jin) melalui segi kesehatan. Suku bangsa Mongolia memiliki tubuh yang fit dan kuat serta punya stamina baik. Dari penelitian kronika dapat diketahui bahwa evolusi kehidupan kekaisaran tidak tergantung dari pedoman makanan yang terlalu mewah.
Selain kebiasaan makan, suku Mongolia yang kemudian berkuasa dan mendirikan dinasti Yuan (1272) memiliki keunggulan di bidang mobilitas, aktif berlatih yang membuat mereka fit dan berstamina seumur hidup, taktik kavaleri yang brilyan, disiplin, inteligen dan logistik yang sesuai untuk pertempuran mereka. [RV]