Sebuah Warung Rempah Di Maroko. Foto: Laura C
Rempah-rempah merupakan salah satu komiditi penggerak perdagangan dunia sejak masa purba dan awal sejarah. Nasib warga masyarakat yang berada dalam pusaran perdagangan rempah banyak yang terikat dengan kejayaan rempah-rempah. Nasib kekaisaran dan kerajaan mengalami pasang dan surut berdasarkan penguasaan atas akses jalur rempah ini.
Sejarah rempah berlangsung ribuan tahun lamanya. Catatan dari berbagai sumber Tiongkok mau pun India menyebutkan rempah berasal dari wilayah di sebelh timur India dan harus melalui perjalanan yang cukup panjang dengan pelayaran. Setidaknya perdagangan rempah pada kurun waktu sebelum masehi mengharuskan para pedagang rempah harus melalui rute yang sangat lama dan cukup membahayakan.
Dari penemuan artefak dan peninggalan masa purba lainnya diketahui bahwa awalnya perdagangan rempah adalah dari India dan Nusantara dan berpusat ke Mesir. Para pendeta Mesir membutuhkan rempah untuk melakukan proses mumifikasi bagi para raja dan anggota keluarganya. Tercatat rempah kayu manis sudah ditemukan catatannya di hiroglif Mesir pada era 1.000 SM.
Selama 1.000 tahun berikutnya para pedagang Arab menjadi pihak perantara antara kawasan pusat rempah di India bagi kawasan perdagangan di Timur Tengah. Mereka adalah pihak yang melakukan monopoli untuk melakukan perdagangan rempah di Timur Tengah. Mereka mengambil rempah-rempah dari pelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara dan membawa semua dagangan berharga tersebut menuju pelabuhan-pelabuhan Laut Merah.
Monopoli para pedagang Arab mengalami kemunduran sekitar tahun 120 SM. Seorang pelaut India terdampar di tepi Laut Merah di kawasan Mesir. Saat sudah sehat, ia mengajarkan para pelaut Mesir dan Yunani yang ada di Mesir tentang pelayaran mengarungi Lautan Arabi menuju subkontinen India. Beberapa kapal Yunani berhasil melakukan pelayaran tersebut.
Saat bangsa Romawi menguasai Mesir pada tahun 30 SM, maka peta pelayaran perdagangan rempah berubah. Tercatat dalam kronika bangsa Mesir bahwa setidaknya setiap tahun ada 120 kapal yang meninggalkan pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah dan kembali dengan membawa rempah-rempah dari India.
Pada tahun awal tarikh Masehi, jaringan pelayaran dan perdagangan rempah sudah berkembang dengan sempurna di kawasan tersebut dengan India sebagai pusatnya. Para pedagang India berlayar mengarungi Samudra India menuju kawasan Nusantara. Mereka menukar lada dari hasil bumi mereka dengan cengkeh dan pala. Dari arah lain, Tiongkok juga memiliki para pedagang rempah yang melayari Laut Cina Selatan dan tiba di kepulauan Nusantara dan Sri Lanka.
Total jarak yang ditempuh dari perdagangan rempah mencapai 14.500 kilometer pulang-pergi dengan jaringan yang mencapai kota Roma, melintasi Laut Mediterania, ke Afrika Utara, lalu melalui Samudra India hingga tujuan di Nusantara.
Setelah berkurangnya dominasi Kekaisaran Romawi Barat, pada tahun 250 pusat peradaban dan perdagangan berpindah ke Kekaisasaran Byzantium di Konstantinopel. Venesia menjadi pusat perdagangan dunia yang menghubungkan produsen rempah ke kawasan Eropa.
Kekuatan Arab yang berkembang pada abad VII mengambil alih perdagangan rempah saat mereka menguasai Timur Tengah dan sebagian Asia. Salah satu alasan terjadinya Perang Salib adalah karena pedagang dan penguasa Eropa berupaya untuk mempertahankan perdagangan rempah mereka.
Pada abad XV, Vasco da Gama dari Portugis menemukan jalur pelayaran yang mengelilingi benua Afrika langsung ke Asia. Bangsa Eropa menjadi menemukan jalur mandiri tanpa harus menggunakan jasa pedagang Arab untuk mendapatkan rempah. Bonus dari pelayaran dengan mengelilingi benua Afrika adalah para pelaut Eropa tersebut akhirnya menemukan sumber dari rempah-rempah yang mereka cari.
Apa yang bermula sebagai kepentingan untuk mendapatkan rempah sebagai bahaan perdagangan akhirnya berkembang menjadi penaklukkan. Abad XV adalah abad penaklukkan bangsa Eropa terhadap kawasan India dan Nusantara. Semua demi mengendalikan dan mendominasi perdagangan rempah. Portugis adalah yang pertama kalinya membangun kekuatan perdagangan global mereka dengan pusat bisnis mereka di Goa, India.
Melihat keberhasilan Portugis, maka bangsa Eropa lainnya yakni Belanda dan Inggris segera masuk ke dalam kancah persaingan dengan memenuhi jalur pelayaran rempah via Afrika.
Perdagangan rempah dari kawasan Asia Tenggara adalah jalur yang paling menguntungkan. Belanda mendirikan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) atau Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda yang mampu memberikan keuntungan berlipat-lipat kali ganda bagi para pemegang sahamnya. Inggris mendirikan EIC (East Indian Company). Keduanya merupakan kongsi dagang merkantilisme yang juga berperan sebagai pihak kolonial di dalam praktik mereka sehari-hari. Kedua entitas dagang ini bersaing ketat selama satu abad setengah.
Persaingan keduanya terhenti secara alamiah saat abad XVII tiba. Sejumlah bahan minuman yang mampu menjadi stimulan dan rasa yang bervariasi tiba ke Eropa. Termasuk di dalam “barang dagang” baru ini adalah teh, kopi, coklat dan tembakau.
Semuanya dianggap memiliki khasiat menstimulasi kesehatan manusia. Dengan kehadiran stimulan atau barang merkantilis baru ini, dominasi rempah mulai dikikis. Jalur perdagangan baru segera terbuka ke arah benua Amerika, utamanya di bagian selatan.
Dalam perkembangannya, baik teh, kopi dan coklat serta tembakau menjadi bagian dari kondisi adiksi baru karena memberikan sensasi rasa dan pengaruh psikologis bagi bangsa Eropa.
Ke empat komoditi tersebut mencetuskan revolusi kuliner di di Eropa yang berawal dari Prancis. Berbagai kuliner Eropa tidak lagi menggunakan gula dan rempah eksotis dalam jumlah besar. Harga rempah yang sangat mahal membuat warga Eropa menyadari mereka lebih baik mereka menggunakan apa yang ada di sekitarnya. Tahap berikutnya, bangsa Eropa membudidayakan apa yang mereka miliki, baik itu herba lokal mau pun bahan sayur mayur lainnya seperti jamur. Dan pola masak dan makan bangsa Eropa terbangun kuat pada masa itu sampai sekarang.
Akibat perubahan pola masak dan gaya hidup inilah, maka rempah-rempah mengalami penurunan dalam dominasi perdagangan. Seturut dengan perubahan besar di bidang perdagangan yang awalnya sangat menguntungkan ini, maka terjadi pula perubahan besar di bidang politik dan kenegaraan. Dua institusi dagang Eropa yang awalnya sangat berjaya akhirnya mengalami kebangkrutan pada abad XVIII dan XIX.
Pola perdagangan rempah pada abad XVIII tersebut selanjutnya menjadi pola yang masih terjadi hingga masa kini. Tetapi siapa yang akan tahu, apa masa depan rempah? Karena sekarang sudah terlihat kembalinya orang menggunakan rempah-rempah untuk minuman kesehatan dan penyembuhan penyakit. [RV]
