Boston – Seorang matematikawan kelahiran Guangzhou bernama Carina Hong saat ini sedang menjadi bahan pembicaraan di kalangan teknokrat dan pebisnis.
Usianya baru 24 tahun dan ia telah menjadi bintang di industri Artificial Industry (AI atau kecerasan buatan). Perusahaan startup Axiom Math didirikan olehnya pada Maret 2025 dan dalam waktu 6 (enam) bulan mampu menggalang modal sebanyak USD64 juta pada tahun yang sama.
Carina memiliki tim yang beranggotakan 17 orang, mayoritasnya berasal dari suatu institusi bernama DeepMind. DeepMind ini dibentuk pada tahun 2023 dan merupakan merger dari berbagai institusi yang terkenal di industri AI yakni Laboratorium Riset AI milik Meta, Tim Meta GenAI, dan Google Brain.
Carina dari awal sudah mengatakan bahwa ia mendasarkan usahanya atas matematika. Dalam kisahnya yang mengejutkan, ia menyebut bahwa keputusannya untuk membangun perusahaan dan sekaligus berhenti kuliah dari program doktoralnya di Universitas Stanford pada saat ia sedang jogging di pagi hari.
Menurut Carina, ilmu matematika tingkat lanjut adalah kebutuhan paling krusial dalam mendapatkan status superintelligence atau kecerdasan tertinggi. “Matematika adalah wadah paling sempurna untuk membangun superintelligence,” ujar Carina, oleh sebab itu ia membangun Axiom. Ini tercatat dalam wawancaranya dengan majalah Forbes.
Lahir di Guangzhou, Tiongkok, Carina sudah gemar akan matematika. Kecerdasannya ia lengkapi dengan karakter ulet sejak kecil. Ia mendidik dirinya sendiri untuk fasih dalam bahasa Inggris dengan membaca buku-buku matematika tingkat lanjutan. Saat remaja ia berhasil menembus persaingan ketat untuk masuk ke sekolah menengah yang berafiliasi dengan Universitas Normal Cina Selatan di kota kelahirannya.
Menurut kantor media Tiongkok 36Kr, pada angkatannya, hanya ada 4 (empat) orang gadis yang menjadi tim tingkat provinsi yang mewakili sekolah mereka untuk bertarung di kejuaraan Olimpiade nasional dan Carina adalah salah satu mereka.
Dari kerja keras mereka, para remaja putri tersebut berhasil menyabet berbagai kejuaraan, antara lain Piala Hua Luogeng dan Liga Matematika Tingkat Sekolah Menengah Nasional. Saat ia belajar dan berlatih dalam berbagai soal matematika, Carina menyebutkan ia telah tertarik dengan riset matematika. “Saya selalu tertarik pada penemuan-penemuan matematika,” ujar Carina kepada The Wall Street Journal.
“Olimpiade matematika bagaikan zat dopamin bagi saya. Tetapi riset matematika selalu membuat saya seperti membenturkan kepala ke dinding. Riset selalu menghasilkan kesakitan dan penderitaan. Saya menyukai kondisi seperti itu,” ujarnya lagi.
Saat lulus dari sekolah menengah, Carina berhasil diterima di Massachusetts Institute of Technology (MIT) salah satu sekolah unggulan Amerika Serikat. Tidak mengherankan apabila Carina memilih matematika dan fisika. Carina adalah anggota pertama dari keluarga besarnya yang memperoleh pendidikan dari perguruan tinggi.
Carina melahap kuliah strata satunya dengan kemampuan luar biasa. Dalam kuliahnya berhasil menghasilkan 9 (sembilan) makalah penelitian, dan mengambil 20 mata kuliah matematika tingkat lanjut.
Pada tahun awal kuliahnya, Carina berhasil memenangkan Hadiah Frank and Brennie Morgan yang hanya diberikan kepada mahasiswa yang melakukan penelitian yang luar biasa di bidang teori angka dan probabilitas. Carina juga tercatat sebagai Sarjana Penerima Beasiswa Rhodes (Rhodes Scholar) saat lulus dari program magisternya di bidang saraf komputasional (computational neuroscience) dari Universitas Oxford, Britania.
Carina masih mengejar ilmunya dengan mendaftarkan diri ke Universitas Stanford sebagai mahasiswa doktoral di bidang hukum dan matematika.
Di Stanford, Carina berkenalan dengan Shubho Sengupta, seorang peneliti AI dari Meta yang sering berdiskusi dengannya tentang potensi pengembangan AI untuk menyelesaikan soal-soal matematika tersulit dan menemukan soal baru.
Setelah mendirikan Axiom, suatu perusahaan startup di bidang AI. Ia akhirnya berhenti dari kuliahnya pada saat Axiom berhasil menggalang modal awalnya.
Perusahaan Carina dibangun dengan nama salah satu istilah matematika yang berarti kebenaran dasar yang menjadi titik awal dari membangun sebuah teori matematika.
Carina menyebut tujuan Axiom adalah membangun “seorang matematikawan AI” yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan matematika, membangun bukti dan memeriksa sendiri berbagai hasil pekerjaannya.
Ia bertujuan untuk mengkonversikan semua pengetahuan matematika dari buku rujukan ilmu, makalah penelitian, jurnal-jurnal ilmu pengetahuan menjadi suatu program perangkat lunak (software program) yang dapat menciptakan dan memverifikasi persoalan matematika baru. Hasil akhirnya, kata Carina, adalah mempersiapkan pandangan berupa konjektur yang dianggap memiliki kebenaran berdasarkan bukti awal, yakni teori yang kemungkinan benar tetapi belum dapat dibuktikan.
“Kami tidak membangun chatbot yang meniru berbagai solusi,” ujar Hong. “Kami mengajar AI untuk membuktikan teorem. Hal inilah yang membuatnya berbeda dalam hal tantangan, dan karenanya sangat berharga untuk dipelajari.”
Saat membangun timnya di Axiom, Carina tidak menemui kesulitan dalam merekrut para ilmuwan dan peneliti. Semua ilmuwan dan peneliti tersebut sudah mendengar kecerdasan dan ambisi Carina sejak awal. Carina juga tidak hanya merekrut para matematikawan, tetapi juga para ilmuan dari setiap bidang ilmu yang lain seperti ahli di bidang verifikasi perangkat lunak, keuangan kuantitatif, bahkan kriptografi. Ia merekrut para ahli tersebut untuk memperkuat sisi komersial dari perusahaannya.
“Apabila masalahnya cukup berat, maka densitas para ahli akan menjadi sangat tinggi, dan karenanya perusahaan anda akan menjadi magnet dari pemikir besar lainnya,” ujar Carina.
Tidak mengherankan Carina berhasil memboyong para talenta terbaik dari Laboaratorium Meta’s FAIR, termasuk teman baiknya sendiri Sengupta. Ilmuwan lainnya adalah Francois Charton, yang terkenal mampu menyelesaikan soal matematika yang terkenal sulit sehingga tidak bisa dipecahkan dalam 100 tahun. Tim Carina juga berhasil menarik Aram Markosyan, seorang ilmuwan AI yang memimpin bidang penelitian keamanan dan keadilan.
Salah satu anggota tim Carina adalah Ken Ono, seorang professor dan matematikawan terkenal dan juga mantan dosen Carina yang sebelumnya mengajar untuk mengembangkan dan meneliti sistem AI. Ono menyebutkan bahwa ia lebih tertarik dengan tantangan intelektual pada Axiom, dan bukan perkara keuntungan keuangan. Ucapan Ono ini begitu mengena karena diketahui bahwa ia telah menolak tawaran-tawaran lain yang lebih menguntungkan dari berbagai perusahaan AI.