Pembukaan Pabrik Semen Di Burkina Faso
Ouagadougou – Bagaikan pembukaan suatu film perang dengan aksi mendebarkan, pasukan pengaman Presiden Ibrahim Traore menggagalkan rencana pembunuhan terhadapnya pada awal Januari, tepatnya pada Sabtu (03/01) malam.
Serangan itu dimulai dengan pengiriman drone yang menjadi tindakan awal dari suatu invasi militer.
Berdasarkan keterangan Menteri Pertahanan Burkina Faso pada hari Selasa (06/01) Mahamadou Sana, diketahui bahwa para konspirator terekam sedang membahas rencana mereka untuk menyerang satu jam sebelum tengah malam pada Sabtu malam tersebut.

“Dimulai dengan penetralan Kamerad Kapten Ibrahim Traore, Kepala Negara dan Presiden Faso, baik melalui penembakan jarak dekat atau melalui operasi penanaman ranjau-ranjau di kediamannya,” ujar Sana.
Di tengah tegangnya penanganan situasi oleh pasukan bersenjata Burkina Faso pada malam tanggal 3 dan 4 Januari, terkuak juga informasi kemungkinan terjadinya kudeta terhadap Traore. Ribuan orang mulai berkumpul di berbagai alun-alun dan bunadaran jalanan di dalam ibu kota Ouagadougou pada malam itu juga. Mereka bersiap untuk menjadi perisai hidup bagi Traore.
Lalu siapakah Ibrahim Traore yang telah menimbulkan kegelisahan di kalangan tertentu sehingga pihak itu menyusun upaya pembunuhan terhadapnya?

Ibrahim Traore lahir pada tanggal 4 Maret 9188 di Kera, Bondokuy, Provinsi Mouhoun. Nama ayah dan ibunya hilang tertelan kerahasiaan untuk melindungi mereka dan Traore, terlebih setelah putra mereka memasuki tahap penting dalam hidupnya. Nama Traore sendiri adalah nama yang cukup biasa dan banyak digunakan oleh warga Burkina Faso sehingga untuk mencari sisik melik orang tuanya akan cukup memakana waktu.
Catatan yang mudah dicari dari Traore adalah ia lulus dari SD di Bondokuy dan kemudian meneruskan pendidikannya di SMA di Bobo-Dioulasso. Pada tahun 2006, ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan fakultas teknik geologi di Universitas Ouagadougou.
Berasal dari keluarga muslim, Traore sejak kecil mengidolakan Thomas Sankara, Presiden Burkina Faso pada 1983-1987. Ia adalah seorang aktivis sejak masa mudanya. Hal ini terlihat dari catatannya saat kuliah dimana ia merpuakan anggota Perkumpulan Pelajar Muslim dan anggota Perhimpunan Marxis Nasional Pelajar Burkina Faso (ANEB).
Selama menjadi siswa, Traore terkenal sebagai orang yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan di antara mahasiswa. Traore mendapatkan gelarnya dari Universitas Ouagadougou dengan prestasi lulus dengan pujian (with honors).
Pada tahun 2009, Traore mendaftarkan diri ke Angkatan Bersenjata Burkina Faso dan kemudian lulus dari Akademi Militer Georges-Namoano. Lulus dari sana ia dikirim ke Maroko untuk mendapatkan pelatihan anti-serangan udara. Setelah lulus dari Maroko, Traore dipindahkan ke unit infantri di Kaya, suatu kota di utara negara Burkina Faso. Dengan pangkat letnan pada tahun 2014, Traore bergabung ke MINUSMA Mission Multidimensionnelle Intégrée des Nations Unies pour la Stabilisation en Mali, yakni pasukan penjaga perdamaian yang bertugas dalam Perang Mali. Prestasinya selama 4 tahun di MINUSMA membuat Traore terkenal sebagai perwira yang menunjukkan keberanian menghadapi berbagai pertempuran besar di kawasan Tombouctou.

Secara keseluruhan Traore berada dalam penugasan aktif menangani terorisme di 7 kawasan bergolak sehingga hal ini membuatnya berpengalaman dalam membaca taktik dan strategi dari para insurgen tersebut.
Ia juga bertugas di Djibo dalam pertempuran Otapuanu pada 2019 dan berbagai operasi anti-terorisme di utara Burkina Faso sehingga mendapatkan promosi pangkat Kapten pada tahun 2020.
Sebagai seorang perwira muda yang terkenal akan prestasinya dalam peperangan kawasan Sahel, Traore sebagai salah satu perwira muda pilihan Kolonel Paul-Henri Sandaogo Damiba untuk melakukan kudeta terhadap Presiden Terpilih Burkina Faso, Roch Marc Christian Kabore. Kudeta Damiba tersebut terjadi Januari tahun 2022.
Tetapi dalam beberapa bulan setelah kudeta yang berhasil itu, para perwira muda yang mendampingi Damiba menelan kekecewaan mereka. Keputusan-keputusan Damiba membuat kondisi dalam negeri Burkina Faso akibat lemah menghadapi para teroris yang semakin kejam dalam tindakan-tindakan mereka terhadap warga setempat. Di bawah pemerintahan Damiba, memang terdapat penggempuran markas-markas terorisme, tetapi pada akhirnya 40% kawasan Burkina Faso justru dikuasai oleh para teroris tersebut.
Para teroris tersebut merupakan gerakan insurgen yang berinduk kepada al-Qaeda dan ISIL sementara angkatan bersenjata Burkina Faso tidak mendapatkan perlengkapan alutsista yang memadai untuk menghadapi mereka. Kebijakan Damiba juga mengakibatkan korupsi makin merajalela utamanya dalam hal pengadaan alutsista Burkina Faso.
Maka 9 bulan setelah kudeta, pada bulan September Traore memimpin kudeta terhadap Damiba. Ia didukung oleh para perwira yang kecewa tersebut dan membuat sang kolonel mengundurkan diri dan melarikan diri ke Togo. Junta militer yang melakukan kudeta itu menyebut diri mereka Gerakan Patriotik Untuk Menjaga Keamanan Dan Restorasi (Patriotic Movement for Safeguard and Restoration).
Sebulan kemudian, tepatnya pada 21 Oktober 2022 Traore diangkat secara resmi sebagai Kepala Negara, Pemimpin Tertinggi Angkatan Bersenjata oleh junta militer MPRS. Sebagai presiden ia disebut ad-interim karena ia menganggap pemerintahannya hanya bersifat sementara dan bahwa posisi pemimpin negara itu kelak akan dikembalikan ke tangan sipil. Posisi ad interim pemerintahan ini diperpanjang pada Juli 2024 karena kondisi keamanan negara yang masih dalam posisi belum stabil.
Dalam usia 34 tahun dan berhasil menjadi presiden, Traore bahkan melampaui prestasi idolanya Sankara yang menjadi kepala negara pada usia 36 tahun. Pada saat pengangkatannya, Traore menjadi kepala negara termuda di dunia.

Pengalaman Traore sebagai pasukan penjaga keamanan di wilayah Sahel pada Perang Mali sangat berguna saat ia sudah menjadi presiden. Ia mengadakan aliansi dengan Mali, dan Niger yang memiliki keterkaitan dengan Sahel. Pada akhir 2025, Traore mendapat giliran sebagai chairman atau ketua dari AES yakni Persekutuan Negara-Negara Sahel (Alliance of Sahelian States) menggantikan Jenderal Assimi Goita, presiden Mali.
Setelah menjadi kepala negara, Traore mengikuti jejak Sankara. Kebijakan luar negerinya adalah melepaskan diri dari ketergantungan kepada Prancis dan aliansi negara Eropa Barat dan lebih memilih bersekutu kepada Rusia, Cina, dan Turki.
Traore lebih memilih untuk bersekutu dengan Rusia dan mengizinkan perusahaan milik negara untuk menjual sahamnya sebesar 15% kepada perusahaan asing dengan syarat perusahaan asing melakukan alih teknologi kepada rakyat Burkina Faso. Contoh dari upaya alih teknologi ini adalah perusahaan Rusia Norgold yang diberikan lisensi untuk mengoperasikan tambang emas milik BUMN Burkina Faso tersebut.
Traore menyebut tindakannya untuk mengelola tambang-tambang BUMN dengan alih teknologi tersebut sebagai revolusi.

Presiden Rusia sangat menghargai Traore sehingga mengundangnya untuk menghadiri peringatan ke-50 tahun Kemenangan Eropa Palagan Timur pada Perang Dunia II di Rusia. Putin mengetahui bahaya yang mengelilingi hidup Traore sehingga ia mengirimkan pesawat Rusia untuk menjemput presiden mud aitu bersama para pengawalnya langsung ke Moskow.
Sesaat setelah menjadi presiden, Traore segera meneladani Sankara dengan kesederhanaan. Ia menolak menerima gaji kepresidenan bagi dirinya dan hanya menerima gajinya sebagai seorang kapten di Angkatan Darat. Ia juga langsung membuat rencana bersama AES untuk menghancurkan terorisme secara total di kawasan Sahel.
Akibatnya ia juga mendapatkan dukungan dari para menterinya untuk memangkas gaji mereka sebesar 30%. Pada asaat yang sama ia meningkatkan gaji para ASN (aparatur sipil negara) sebesar 50%.
Dalam 4 tahun terakhir Traore sudah melakukan hal-hal yang menjelaskan cita-citanya dalam membangun negaranya yakni mencapai perdamaian melalui keamanan dan kesejahteraan dengan perekonomian.
- Februari 2023, ia mengusir semua unit tentara Prancis yang berada di negaranya.
- April 2023, ia memobilisasikan sukarelawan rakyatnya untuk mendukung upaya militer Burkina Faso dalam menghadapi terorisme. Enam bulan sebelumnya, ia berhasil merekrut sebanyak 90.000 orang untuk menjadi sukarelawan di dalam implementasi volunteer development program (VDP atau volunteers’ development). Di bawah komando Traore para sukarelawan ini diperluas sebagai kunci utama strategi pertahanan nasional melawan terorisme.
- Pada Juli 2023, ia menindaklanjuti Pertemuan Puncak Rusia-Afrika dengan membuka kembali kedutaan besar Rusia di Ouadougou dengan demikian hubungan diplomatik di antara kedua negara hidup kembali setelah sempat berakhir pada 1992.
- September 2023, Traore mengumumkan pembentukan konfederasi AES (Persekutuan Negara-Negara Kawasan Sahel) yang terdiri dari Niger, Mali dan Burkina Faso.
- Ia memerintahkan pergantian tradisi ala Inggris yang berlaku ratusan tahun di dalam persidangan yakni penggunaan wig dan jubah tradisional bagi para para hakim dan pengacara serta jaksa di dalam pengadilan Burkina Faso. Sebagai gantinya Traore mewajibkan para penegak hukum menggunakan pakaian tradisional Burkina Faso.
- Pertumbuhan ekonominya juga menunjukkan perkembangan signifikan dimana saat ia memulai tugasnya sebagai presiden GDP Burkina Faso adalah sebesar USD18.8 miliar dan pada tahun 2025 mencapai 22.1 miliar.
- Traore menolak tawaran dari berbagai entitas internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Ucapannya yang terkenal adalah “Afrika tidak memerlukan Bank Dunia, IMF, Eropa atau Amerika.” Posisinya ini merupakan upayanya menerjemahkan pidato mendiang Sankara di Majelis Persatuan Bangsa-Bangsa pada 4 Oktober 1984.
- Pada November 2023, Dewan Menteri Burkina Faso menyetujui pembangunan kilang emas Burkina Faso yang mampu menciptakan 100 lowangan kerja baru dan 5.000 pekerjaan yang terkait dengan pendirian dan operasional kilang tersebut. Kilang ema situ mampu memproduksi 400 kilogram per hari dan memiliki nilai sebesar USD41.500.000 per harinya.
- Februari 2024, Traore memerintahkan penghentian izin ekspor untuk produksi emas swasta dalam menghadapi perdagangan emas ilegal yang merajalela di Burkina Faso. Menurut dewan Emas Dunia, Burkina Faso pada 2023 merupakan produser emas ke-13 terbesar di dunia yang mampu menghasilkan 100 ton emas dengan nilai sebesar USD6 miliar per tahunnya.
- Maret 2024, Burkina Faso dan Rusia menandatangani roadmap dalam membangun kerja sama penggunaan energi nuklir sebagai pembangkit tenaga listrik di Burkina Faso. Pada bulan Agustus, para ahli nuklir Rusia sudah berada di Burkina Faso untuk memulai negosiasi pembangunan pembangkit tenaga listrik nuklir di sana.
- Agustus 2024 Burkina Faso menasionalisasikan dua tambang emas senilai USD80 juta, sementara tambang Boungou dan Wahgnion dijual oleh perusahaan berbasis London kepada pihak Lilium Mining seharga USD300 juta. Selanjutnya, kesemua tambang tersebut dibeli oleh BUMN Burkina Faso.
- Masih pada Agustus 2024, Burkina Faso membangun pusat produksi farmasinya yang mengkhususkan diri untuk membuat obat-obatan generic. Diberi nama Propharm dan disertifikasi oleh suatu institusi Spanyol yang independent, pabrik farmasi itu akan mulai memproduksi paracetamol, phloroglucinol serta berbagai obat mulut untuk merehidrasi mulut berupa garam dan seng dan baik untuk pengobatan diare. “Produk kami mampu memenuhi kebutuhan warga setempat dan menyelesaikan rupture drastic,” ujar General Manager Propharm. Pabrik farmasi itu juga mampu untuk memproduksi obat-obatan yang menanggulangi penyakit malaria.
- Agustus 2024, kelompok usaha Maroko CIMAF membuka unit industri barunya di Ouagadougou utnuk membangunan kemampuan industry serta memfasilitasi transfer teknologi antara kedua negara. Kerjasama antara Selatan-Selatan ini merupakan upaya untuk membangun perekonomian Afrika dalam jangka panjang.
- Pada bulan November dan Desember 2024, melalui APEC dan SOSFATO (Masyarakat Tomat), Burkina Faso meluncurkan 2 pabrik tomat di Bobo-Dioulasso dan Yako. Kedua fasilitas pabrik ini mampu memproses 11 ton tomat setiap jamnya. Pengoperasian satu pabrik adalah USD8.9 juta dan mencakup 1 hektare kebun tomat dan memiliki kapasitas memproses 100 ton tomat per hari. Pabrik-pabrik ini menciptakan ratusan lowongan kerja dan sekitar 3.000 lowongan kerja terkait dengan pemroses tomat. Pada tahun 2022 negara ini berhasil memproduksi 313.500 ton tomat segar, tetapi harus mengimpor sekitar 23.600 pure tomato karena kurangnya kemampuan mengolah tomat segar.
- Traore tidak berhenti di pengolahan tomat saja. Pada February 2025, ia membuka pabrik tepung dengan kapasitas 220 ton tepung dan 80 ton bran di Gampela. Pemilik pabrik adalah Moulin Double Star Mill yang menginvestasikan uang sebanyak USD23.6 juta untuk membangun pabrik tersebut. Diketahui bahwa Burkina Faso mengimpor 270.300 ton gandung dan 16.700 ton tepung gandum dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk menanggulangi permintaan dalam negeri, Burkina Faso menyediakan 5.000 hektare untuk lahan gandum.
- Burkina Faso juga membagikan 400 traktor, 239 tiller, 710 pompa motor dan 714 sepedamotor untuk meningkatkan produksi dan mendukung para petani di pedesaan. Burkina Faso juga memperbaiki akses untuk benih sayur yang diperlukan untuk memperluas produksi agrikulturnya. Sebagai contoh produksi millet mencapai 1.1 juta ton pada 2024 dari awalnya 907.00 pada tahun 2022. Produksi beras juga meningkat dari 280.000 ton pada 2022 menjadi 326.000 pada tahun 2024.
- Pada Maret 2025, Burkina Faso meresmikan pabrik semennya CISINOB SA yang memiliki 2.000 ton per hari. Pabrik ini merupakan hasil kerjasama antara Burkina Faso dengan Tiongkok.
- Pembukaan kembali pabrik tekstil di Koudougou yang dahulu sempat menjadi kebanggaan Burkina Faso. Pabrik tekstil itu diberi nama baru SOFITEX menggantikan FASO FANI yang merupakan ikon Burkina Faso. Di dekat pabriki ini dibangun 2 pabrik pemroses kapas yang baru di kawasan ekonomi Bobo-Dioulasso dan Ouagadougou. Selama puluhan tahun Merdeka, negara itu mengekspor 95% kapasnya secara mentah tanpa pernah dapat memprosesnya terlebih dahulu.
- Pada tahun 2025, Traore menolak tawaran Arab Saudi untuk pembangunan 200 masjid di negaranya. Ia justru meminta Arab Saudi untuk menginvestasikan uang dalam proyek-proyek infrastruktur seperti sekolah, rumah sakit, serta bisnis yang membuka lowongan kerja. Traore menganggap infrastruktur tersebut lebih penting bagi pengembangan negaranya dan menjamin keberlangsungan perekonomiannya dalam jangka panjang.
- Traore juga membangun bandara internasional baru di Ouagadougou-Donsin yang dirancang untuk melayani 1.000.000 orang dalam setahun. Ia juga membangun berbagai jalan raya baru, memperlebar jalan yang sudah ada serta mengaspal jalan-jalan yang awalnya merupakan jalan batu.
Dalam perjalanannya ke Moskow pada 2025, terkuak bahwa ada pihak yang mendekati beberapa pengawal pribadinya dan menawarkan sejumlah uang kepada mereka untuk memberikan rute perjalanannya demi melakukan penyergapan terhadap Traore. Tetapi hal itu gagal karena para pengawal tersebut justru melaporkannya kepada Traore sendiri. Secara keseluruhan, diketahui ada sekitar 18 kali upaya pembunuhan terhadap Traore sejak ia mulai berkuasa.
Kebijakan Traore dan keputusan-keputusannya mengambil hati rakyatnya sehingga tidak heran mereka mau membelanya mati-matian saat mengetahui ada upaya kudeta terhadapnya. Ia juga dihormati oleh para pemimpin negara kawasan Afrika yang memahami dan menyetujui keputusan-keputusannya. Saat ini ada 10 negara kawasan Afrika yang ingin bergabung dengan AES yang awalnya hanya memiliki 3 negara anggota. Anggota terbaru AES adalah Guinea dan Chad yang bergabung pada 2026 ini.
Sebagai seorang nasionalis, Traore tidak melupakan pendahulunya yang memberikannya ilham yakni Sankara. Pada 2025 ia memberikan tempat yang layak bagi Sankara dengan memberikan gelar Pahlawan Nasional baginya dan membangun Mausoleum Sankara.

Pers dan media internasional menganggap semua yang dilakukan Traore ini merupakan gimmick dan bahkan menganggapnya sebagai pembohong yang gemar memberikan informasi yang menyesatkan sehingga apabila membaca liputan mereka tentang dirinya akan terlihat pemberitaan yang berat sebelah dan bernada sinis. [RV]