Sejumlah Bel Klintingan Yang Ditemukan Pada Leher Binatang Korban Di Situs Arkeologis Anyang.
Para arkeolog di Tiongkok berhasil menemukan situs kebun binatang terbuka ala Taman Safari. Berbagai binatang yang sekarang dianggap liar, ternyata pada saat itu sudah didomestikasi seperti leopard, harimau, rubah, burung rajawali, serigala dan sejenisnya. Binatang-binatang itu menjadi bagian dari kekuasaan kerajaan, kepercayaan dan peradaban Tiongkok.
Situs berusia 3.000 tahun tersebut ditemukan di Anyang, yang menjadi ibu kota Tiongkok kuno pada masa Dinasti Shang. Situs arkeologis tersebut sedang diekskavasi. Dari temuan awalnyaa, situs itu mencakup kompleks pemakaman kerajaan.

Mengapa Zhai Xiang percaya mereka dipelihara secara terbuka oleh para raja Dinasti Shang? Ia melihat pada setiap kerangka binatang menggunakan bel yang merupakan bagian dari peralatan upacara pengorbanan hewan.
Arkeolog yang memimpin eksvakasi menyatakan bahwa penemuan mereka tidak hanya menemukan kerangka hewan korban yang mencakup sapi, domba, kuda dan berbagai hewan liar lainnya.
Situs tersebut berumur 3.000 tahun. Tetapi Zhai Xiang, seorang anggota Masyarakat Relik Budaya Nasional Tiongkok, menyebutkan bahwa situs tersebut sangat luas. Ia mengakui bahwa ia belum dapat membagikan berbagai temuan secara publik sebelum ada makalah atau pihak berwenang telah mengunggah foto-foto situs tersebut.
Pada saat pemerintah Tiongkok membagikan foto-foto pemakaman raja-raja Shang maka ia baru dapat membagikann koleksi foto-fotonya. Di dalam foto yang ia ambil pada 2023-2024, kerangka binatang yang sudah diekskavasi mencakup kerangka kerbau, rusa, antelope, serigala, harimau, leopard, rubah, eland, beruang liar, landak dan berbagai burung dari jenis angsa, bangau, falkon dan rajawali.
Situs tersebut tidak dapat dikatakan utuh karena ada bagian kawasan yang dijadikan kompleks pemakaman oleh Dinasti Zhou yang berkuasa setelah Dinas Shang.
Kerangka binatang seperti harimau atau leopard ditemukan dalam kondisi yang cukup baik di dalam pemakaman pengorbanan mereka. Ada pula seekor kerangka seekor gajah. Di antara kerangka-kerangka binatang tersebut juga ditemukan kerangka-kerangka manusia. Kesemuanya menunjukkan pembuktian bahwa pada zaman Dinasti Shang pengorbanan manusia juga merupakan praktek yang biasa dilakukan oleh para penguasanya.

Pengorbanan manusia pada zaman itu dilakukan dengan 60 metoda. Di dalam proses pengorbanan, termasuk mencakup pemeliharaan budak belian yang dirawat beberapa lama sampai mereka dianggap tepat untuk dikorbankan. Seorang budak akan dikorbankan melalui salah satu metoda yang ditentukan seperti pemenggalan, penguburan hidup-hidup, penenggelaman ke air, dan pembakaran dalam api unggun.
Dalam konteks ini praktek Dinas Shang ini maka para arkeolog Tiongkok memiliki dugaan bahwa semua binatang yang ditemukan tersebut merupakan bagian dari fauna yang dipelihara secara sengaja oleh kerajaan sebelum akhirnya mereka dikorbankan. Pengorbanan biasanya dilakukan pada saat seorang raja atau ratu atau keluarga kerajaan yang memiliki jabatan tinggi, meninggal dunia.
Kerangka kuda yang ditemukan menimbulkan teori bahwa sudah ada hubungan atau pertukaran kebudayaan antara Tiongkok purba dengan dunia luar karena domestikasi kuda diperhitungkan berasal dari dunia barat. Dalam catatan kerajaan Dinas Shang memang ditemukan bukti bahwa pada era dinasti ini kuda yang dijinakkan mendadak muncul dalam jumlah yang sangat besar. Jelas jumlah besar ini adalah akibat domestikasi, perawatan, perkawinan kuda yang diatur oleh manusia.
China, domesticated horses suddenly appear on a large scale during the Shang dynasty, clearly as a result of cultural exchange with the West. All the horses found so far in the sacrificial pits appear in even numbers.
Hal ini sudah menunjukkan bahwa komunikasi dan pertukaran kebudayaan antara Asia Dataran dengan Eropa sudah berlangsung sebelum tercatatnya kegiatan tersebut didalam sejarah resmi. Juga binatang-binatang yang ditemukan di kompleks tersebut juga merupakan titik balik dari pemahaman hubungan manusia dengan fauna. Selama ini tidak terpikirkan oleh para sejarawan bahwa pada 2.000 tahun sebelum Masehi ada taman tempat memelihara binatang liar. Para nenek moyang manusia pada zaman itu sudah berhasil untuk memelihara hewan-hewan buas tersebut dengan baik.
Pihak ilmuwan arkeologi dan para penggemar sejarah sudah menunggu-nunggu pengumuman resmi hasil penelitian dan penerbitan makalah laporan para arkeolog yang melakukan penggalian di situ Anyang tersebut. [RV]
