Peternak Mongolia Sedang Menggembalakan Dombanya Di Padang Steppa. Dokumentasi
Ulan Bator – Mongolia memiliki 64 juta ternak berupa domba, kambing, sapi perah, kuda serta unta. Semua dalam kondisi diternakkan dengan bebas, dalam artian tidak ada dari mereka yang dikandangkan.
Dengan populasi ternak sebanyak itu, berapa populasi manusianya? Manusia di Mongolia berjumlah 3.000.000.
Melihat hal tersebut, para konsultan baik dari Eropa mau pun Amerika Serikat telah berkali-kali memperingatkan bahwa Mongolia akan mengalami populasi yang terlalu berlebihan dan karenanya menghadapi kiamat ekologis.
Tetapi para pengambil keputusan di tingkat pemerintah berlaku dengan sopan terhadap para pakar tersebut. Mereka mendengarkan pendapat-pendapat ahli dari negara asing itu yang datang dan memberikan nasehat yang tidak pernah diminta oleh warga Mongolia.
Pada kenyataannya, warga Mongolia tetap memelihara ternak mereka dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka selama ribuan tahun
Secara tidak mengejutkan, padang-padang steppa tempat mereka beternak tetap sehat. Berbeda jauh dengan ramalan kiamat ekologis yang disemburkan para pakar tersebut.
Bagaimana caranya warga Mongolia itu memelihara lingkungan mereka dengan baik dan tepat guna?
Kuncinya ada pada pergerakan. Para penggembala dan peternak Mongolia merupakan kaum nomaden yang terus menerus bergerak sepanjang waktu. Mereka menggembalakan ternak mereka secara terus menerus.
Pergerakan ini bukan sembarang pergerakan. Warga Mongolia mengikuti pola pergerakan purba yang sudah diambil oleh para moyang mereka dan sekaligus memelihara siklus pertumbuhan rerumputan dan memelihara kelestarian sumber air mereka.
Saat suatu kawasan padang steppa sudah diserbu oleh sebuah gugusan ternak yang berjumlah banyak, maka rerumputan di tempat itu sudah pasti rusak. Selain sudah dimakan oleh ternak-ternak, padang rumput juga rusak karena diinjak-injak oleh ribuan ternak.
Pada saat yang sama, lapisan tanah terganggu, dan kotoran ternak bertebaran dimana-mana. Hal ini membuat kawasan tersebut sudah tidak laik lagi untuk dijadikan tempat menggembala.
Dalam kondisi padang steppa seperti itu, maka sudah waktunya para peternak tersebut memindahkan ternak-ternak mereka. Mereka berpindah ke kawasan berikutnya, dengan tertib. Demikian seterusnya dengan pola yang sama. Sampai beberapa bulan kemudian, rombongan ternak itu akan kembali ke tempat awal yang rumput dan kondisi pertanahannya sudah sempurna kembali.
Kondisi kawasan pertama itu sudah menjadi subur kembali. Rerumputan tumbuh dengan helai yang lebih tebal dengan lebih cepat.
Mengapa bisa demikian? Rerumputan itu justru lebih tumbuh dengan baik karena distimulasi oleh aktivitas memakan rumput para ternak yang merumput di sana. Satu helai rumput berkembang menjadi lima helai rumput. Tanah yang terinjak-injak justru menyuburkan tanah karena semua lapisannya tergerus oleh jejak kaki ternak dan justru memasukkan unsur organik ke dalam lapisannya. Sudah tentu, kotoran ternak berfungsi sebagai bahan makanan mikroba tanah dan membuatnya lebih subur.
Tetapi semua keuntungan ini hanya bisa dicapai dengan pergerakan yang terukur dengan baik. Apabila rombongan peternak berdiam di satu kawasan terlalu lama, maka rumput-rumputnya akan gundul karena akar-akarnya hancur. Dengan demikian, gerombolan ternak harus sudah berpindah sebelum akar rumput hancur lebur dan karenanya masih bisa bertumbuh lagi.
Kawasan padang steppa Mongolia berfungsi layaknya pembuangan karbon. Tingkat karbon tanah mereka ada pada salah satu tingkat sangat tinggi di antara kawasan padang rumput di bumi.
Tetapi padang steppa ini diciptakan oleh 64.000.000 ternak yang melakukan apa yang disebut oleh para konsultan lingkungan hidup sebagai penggundulan dan penciptaan padang pasir.
Pada akhirnya para peneliti dari negara maju tersebut mulai mempelajari data dari Mongolia. Para peternak nomaden itu memang menghabiskan rumput dengan tingkat yang tinggi daripada yang dilakukan oleh para peternak yang memiliki peternakan yang tetap.
Kaum nomaden Mongolia telah membuktikan bahwa mereka telah melakukan tindakan yang benar untuk memelihara keseimbangan lingkungan hidup. Dan bahwa kebiasaan beternak di negara-negara majuk yang menggunakan cara beternak di kawasan yang tetap justru merusak lingkungan hidup dan menimbulkan perubahan iklim.

Padang-padang rumput di Mongolia tetap hijau dan dalam cakupan jumlah kawasan yang tetap luasnya. Sementara peternakan sapi dan sejenisnya di Amerika Serikat dan Eropa yang menggunakan paddock (pengkotak-kotakan tempat tinggal para ternak) justru mengalami kerusakan dengan pola densitas yang sangat jarang.
Potensi pemeliharaan a la Mongolia justru sekarang dipelajari oleh para ilmuwan negara-negara maju. Ternak mereka pun sehat dan jarang terkena penyakit. Secara praktek, densitas tinggi, sistem ternak berpindah-pindah dengan sangat cepat justru membuat lanskap peternakan berevolusi lebih baik.
Para peneliti iklim dunia sekarang mempelajari bahwa carbon sequestration atau proses peternakan tradisional Mongolia ini merupakan cara baik untuk proses menangkap dan menyimpan karbon dioksida dalam jangka panjang, secara alami dapat dilakukan oleh pohon, tanah, dan lautan.
Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang selama ini didengung-dengungkan oleh para pakar iklim. Para pakar tersebut selama puluhan tahun telah melakukan kampanye agar semua peternakan mulai menghabisi binatang ternak mereka, baik dalam keadaan sehat dan dalam kondisi apa pun.
Hal ini telah dilakukan oleh para pakar iklim tadi di berbagai bagian di Eropa Barat, dan Amerika serta Kanada. Pada awal Desember 2025, para peternak Prancis dikejutkan oleh tindakan pemerintah yang menangkap semua ternak mereka di peternakan mereka dan secara terstruktur dan masif membantai binatang-binatang ternak mereka.
Semua dilakukan dengan alasan demi memastikan sejenis penyakit kulit agar tidak tersebar di antara ternak. Pada saat yang sama, European Green Deals dari institusi Uni Eropa sudah memberikan berbagai kewajiban kepada peternak negara anggota mereka di Eropa untuk mengurangi jumlah minimal ternak agar mencapai batasan nitrogen, dan mengurangi polusi. Penegakan pengaturan dan target ini diperkuat dengan pembebanan berbagai pajak yang sangat berat bagi para peternak negara Uni Eropa. [RV]