Pohon Asam. Getty Images
Di pinggiran jalanan di desa-desa atau kota kecil di kawasan pantai utara di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, pengguna jalan dapat melihat pepohonan asam yang ditanam di sana. Terkadang tepat di pinggir jalan dan tumbuh dengan subur dan mencapai usia tua. Terkadang dapat ditemukan di halaman rumah serta pinggiran sawah.
Pada masa kolonialisme Belanda, pohon asam ditanam di sekitar jalan antara Anyer dan Panarukan untuk memberikan tempat berteduh bagi para pengguna jalan. Tingginya, saat ia sudah sangat tua, mampu mencapai ketinggian 30 meter. Pohon asam ditanam secara sengaja oleh administratur jalan di Jawa berdasarkan ilmu pengetahuan dan rasa hormat masyarakat setempat kepada pohon tersebut.
Pohon asam memiliki nama latin tamarindus indica yang menghasilkan buah yang rasanya masam dan sering menjadi bumbu masak serta elemen jamu di kalangan kaum tradisional. Sampai sekarang pun sering ditemukan herba yang dinamai Jamu Kunyit Asam yang memiliki elemen asam pada minuman tersebut.
Dari penanaman pohon asam yang berasal dari Afrika dan ditanam secara sengaja pada zaman penjajahan Belanda tersebut dapat diambil filosofi yang membuatnya dihormati di antara para leluhur di Nusantara Indonesia. Diperkirakan tanaman asli asam adalah dari Sudan di kawasan padang rumputnya dalam bentuk liar.
Di Nusantara, asam adalah perangkat pemeliharan lingkugan hidup dan sosial masyarakat setempat. Kesemua alasan penanaman pohon besar itu didasarkan kepada penelitian nenek moyang yang sudah dilakukan selama berbagai generasi dan bukan berdasarkan gugon-tuhon kepercayaan dan klenik.
Bentuknya membuat pohon asem dan pohon-pohon sejenisnya sering tumbuh dalam ukuran yang sangat tinggi dan memiliki berbagai kisah-kisah seram yang membuat orang merasa ketakutan untuk mendekatinya dan mengembangkan tradisi memberikan sesajen di bawahnya untuk menyenangkan roh yang katanya tinggal di situ.
Alasan yang paling klasik dalam menanam pohon produktif, yang menghasilkan buah-buahan yang baru dapat dinikmati oleh keturunan penanamnya, adalah suatu alasan yang sudah sangat terkenal. Tetapi apakah ada alasan utama yang lebih untuk menanam pohon-pohon tersebut?
Di dalam alam semesta para nenek moyang bangsa Jawa, penanaman pohon besar sepeti asam berkaitan dengan kepentingan dan ritme hidup mereka. Pohon asam yang sering digunakan untuk membuat sayur asem dan cuko pempek dan berbagai minuman herba, buahnya baru akan dapat dipetik hasilnya dalam jangka waktu yang panjang. Ia tumbuh sangat perlahan sesuai dengan siklus hidupnya. Untuk berbuah pun ia akan memakan waktu yang lama. Usia pohon asam sangat panjang.
Maka dari siklus hidupnya, bangsa Jawa kuno memahami bahwa penikmat utama dari pohon asama adalah keturunannya. Apabila penanamnya meletakkan pohon itu di dalam lingkungan rumahnya, maka itu menunjukkan niatnya untuk menurunkan rumah pusaka kepada anak cucunya.
Dengan pohon asam, maka kondisi udara di sekitarnya adalah sejuk dan teduh. Diketahui bahwa dengan adanya pohon besar seperti pohon asam, maka temperatur tempat itu menjadi lebih nyaman terutama saat musim kemarau yang udaranya menyengat. Kebaikan pohon asam terhadap lingkungan rumah yang memiliki pohon asam adalah ia memberikan kesan yang ayem sehingga keluarga yang tinggal di dalamnya juga kalem.
Penanaman pohon asam juga menunjukkan bahwa karena melindungi dan meneduhkan bagi orang yang bernaung, maka tidak mengherankan pohon asam sering menjadi tempat pertemuan baik saat melakukan acara atau pun sebagai tempat musyawarah.
Ukurannya yang besar sangat pas untuk dijadikan tempat penanda pertemuan dan bahkan penanda perbatasan wilayah antara kawasan milik warga yang satu dengan milik desa sekali pun. Dengan demikian secara alamiah, asam adalah suatu tempat yang memiliki tempat signifikan dalam kehidupan sosial komunitas di sekitarnya.
Setelah perkembangan teknologi begitu maju seperti pada abad XXI ini, maka penjelasan akan pentingnya menanam pohon-pohon besar seperti asam memiliki rasionale yang sejalan dengan sains. Leluhur di Nusantara ini sudah membuktikan bawah menanam pohon asam memiliki berbagai penanda signifikasi yang luar biasa.
Antara lain tetapi tidak terbatas pada kondisi akar pohon asam. Akar pohon asam adalah akar tunggang yang terjun ke dalam tanah dan tidak merusak rumah dan bangunan di sekitarnya. Selama ia ditanam pada jarak 5-7 meter, maka akar pohon tidak akan pernah tumbuh dan melibas bangunan di dekatnya.
Pohon asam ini memiliki daun yang berukuran kecil sehingga sinar mentari tetap mampu menembus dan memberikan nutrisi kepada semua ekosistem di bawah pohon tersebut. Selain menurunkan suhu di lingkungan tempat tumbuhnya, pohon asam juga tidak menyebabkan kelembaban yang menyuburkan beberapa bakteri di dalam tubuh manusia.
Daun yang berukuran kecil (jika dibandingkan pohon produktif lainnya) memiliki siklus hidup yang lebih cepat. Pembusukan daun-daun itu juga terjadi lebih cepat dan karena merupakan faktor penyubur tanah sekitarnya.
Karena lebih cepat terurari, maka pohon asam merupakan pendukung utama dari suburnya mikroorganisme tanah. Dahan-dahannya juga nyaman untuk dijadikan tempat tinggal flora fauna yang menjadi penyeimbang ekosistem lingkungan kecil di sana.
Untuk memastikan agar pohon asam tumbuh dan berguna bagi manusia dan lingkungannya ada beberapa hal yang patut diperhatikan dan dilakukan. Penanamannya sekali lagi harus berjarak antara 5 meter hingga 7 meter dari bangunan sehingga persyaratannya adalah penanam pohon asam perlu memiliki halaman yang cukup luas. Penanam juga perlu menanam asam pada tempatnya, dan bukan di atas saluran air – karena bisa merusak – tidak berada di atas tempat pembuangan air kotor. Syarat lainnya adalah agar pemilik pohon asam rajin dalam melakukan pruning atau pemangkasan secara berkala terhadap dahan dan ranting pohon asam agar tidak tumbuh menjadi meraksasa dan terlalu rimbun. Masalah yang sering terjadi adalah cabang besar yang mengering dan tidak terawat dan dapat membahayakan manusia apabila jatuh karena berbagai sebab.
Dengan demikian pohon asam memiliki karakter yang layak untuk ditanam yakni umurnya panjang, sehingga sering terjadi yang menanam ada pada generasi yang hidup puluhan tahun sebelumnya, dan yang menikmati adalah keturunannya dari 3 generasi berikutnya.
Pesan yang terkandung dari penanaman pohon asam yang dijaga oleh generasi yang datang silih berganti itu adalah untuk menghormati pohon yang merupakan mahluk hidup yang vegetatif tersebut karena merupakan pusaka dari keluarganya yang terdahulu. Pohon asam juga memiliki makna sosial karena merupakan penanda kawasan dan kepemilikan suatu area. Pohon juga memiliki kepentingan sosial berupa menjadi tempat pertemuan dan bermusyawarah karena nyaman untuk melakukan anjangsana di bawahnya.
Secara kepentingan peradaban dan kesehatan untuk pembuatan herba yang manjur dalam menjaga kesehatan, pohon asam adalah strategi kebudayaan Jawa untuk melestarikan lingkungan hidup.
Berbagai kisah gugon tuhon yang beredar di kalangan warga seperti pohon keramat dan adanya pihak penunggu membuat para warga tidak berani untuk menebangnya secara sembarangan dan karenanya merusak satu bagian dari ekosistem setempat. Selain itu dengan pohon sebesar itu, para tua-tua desa akan meminta pihak yang akan menebang pohon untuk mengganti dengan menanam pohon sejenis dan ukuran serta produktivitas sejenis.
Karena menjadi titik kumpul, peneduh, atau penanda wilayah, pohon asam dijaga keberadaannya. Sesuatu yang dijaga bersama lama-kelamaan dianggap sakral. Dengan pohon yang lestari dijaga keberadaannya maka lingkungan hidup juga terjaga dari kerusakan. Bahwa kemudian ada kebiasan untuk memberikan sesajen untuk menyenangkan roh yang tinggal di dalamnya adalah dampak dari ketidaktahuan generasi belakangan yang hanya ditakut-takuti saja.
Leluhur di Nusantara sudah memahami bagaimana caranya menjaga keseimbangan ekosistem setempat dan kegunaan sosial dan ekonominya. Masalah ada pada macetnya pengetahuan dan sains dengan kearifan lokal tersebut dari generasi sebelumnya kepada generasi yang berikutnya, yang tidak diberitahu alasan keberadaan dan penanaman pohon sebesar itu.
Mungkin sudah waktunya generasi sekarang mulai menebarkan kembali nilai-nilai filosofi penanaman pohon besar dan meneruskannya kepada generasi penerusnya. [RV]