Wilayah Greenland Yang Dihuni Oleh Warga Setempat. Dokumentasi AFP
Sedang ramai di dunia perpolitikan negara-negara di Amerika dan Eropa tentang lelucon bahwa Greenland akan dibeli oleh Amerika Serikat untuk menjadi negara bagian ke 53.
Presiden Donald Trump dari Amerika Serikat, entah dalam kondisi serius atau bercanda pada waktu sah terpilih kembali pada akhir Desember tahun 2024 lalu, menyatakan pihak Amerika Serikat ingin memastikan bahwa Greenland bisa dijadikan negara bagian Amerika.
Mengenai Kerajaan Denmark, Trump tidak terlalu memedulikan karena yakin Amerika akan mampu menegosiasikan status politik Greenland.
Selain itu sudah diketahui oleh umum bahwa Greenland secara geografis berada dan ada di dalam bagian lapisan bumi Amerika Utara.
Luas Greenland adalah 2.16 juta kilometer persegi. Letaknya sangat strategis yakni berada di antara Samudra Atlantik Utara dan Samudra Arktik.
Keinginan Donald Trump sebetulnya bukan sesuatu hal yang aneh. Pembelian atau akuisisi dalam istilah ekonominya, suatu kawasan di luar wilayah kewenangan Amerika Serikat beberapa kali pernah terjadi. Pada tahun 1867 setelah melakukan negosiasi bisnis, Presiden Andrew Johnson berhasil membeli Alaskan dari Kekaisaran Rusia seharga USD7.2 juta pada tahun 1867.
Jumlah itu sangat kecil bila dibandingkan keuntungan yang didapatkan Amerika Serikat dalam mengekstraksi berbagai mineral seperti emas, seng, perak, timbal (lead), serta batu bara di Alaska. Sejak keberhasil tersebut, maka beberapa petinggi Amerika Serikat sering membahas perluasan kekuasaan Amerika Serikat di kawasan Benua Arktik.
Seward, Menteri Luar Negeri zaman Presiden Johnson, menyebutkan bahwa sebaiknya Amerika Serikat juga mulai bergerak untuk melakukan pembelian terhadap kawasan Arktik lainnya. Seorang mantan menteri keuangan Amerika Serikat, Robert J Walker, yang berhasil menegosiasikan pembelian Alaska merekomendasikan agar Amerika Serikat menambahkan Greenland dan Iceland (Islandia) untuk dibeli, demikian catatan kronologi yang terdapat di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.
“Bebatuan dan (kondisi) geologis Greenland… selain batu bara yang sangat bernilai, juga mengindikasikan kekayaan mineral yang luar biasa,” ujar Walker. “Alasannya merupakan alasan politis mau pun komersial,” tambahnya lagi.
Pada tahun 1910 bahkan sempat dibicarakan dengan Denmark mengenai kemungkinan tukar guling wilayah kewenangan antara Amerika Serikat dan Kerajaan Denmark. Amerika Serikat menawarkan kepulauan Filipina dengan Greenland.
Hal ini dituliskan dalam laporan Duta Besar Amerika Serikat Maurice Francis Egan kepada Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat. Ia memberikan usulan yang sangat “ugal-ugalan” dimana ia mengusulkan agar Amerika Serikat melakukan tukar guling Kepulauan Filipina dengan koloni Denmark di Hindia Barat.
Greenland adalah monopoli kekuasaan Denmar, kata Egan. “Pulau itu belum pernah dieksploitasi walaupun Norwegia sudah memperhitungkan berbagai kemungkinan (ekstraksinya – red), sebagaimana yang mereka lakukan dengan kondisi yang lebih kecil di Islandia,” tulis Egan.
Sekitar 40 tahun kemudian yakni pada 1946, Persiden Amerika Serikat pada masa pasca Perang Dunia II, Harry Truman, tercatat memberikan penawaran sebesar USD100 juta dalam bentuk emas untuk membeli Greenland. Namun, Kerajaan Denmark menolak penawaran tersebut.
Tidak mengherankan bahwa Presiden Truman menawarkan emas sebanyak itu karena Amerika Serikat saat itu sempat memiliki kewenangan untuk mengelola pertahanan Greenland dan mencegah agar Jerman dan sekutunya tidak ada yang menggunakan akses melalui pulau tersebut ke tanah Amerika Serikat.
Jumlah penduduk Greenland hanya mencapai 58.000 per akhir 2025 kemarin berdasarkan laman pemerintahan Denmark yang membawahi Pulau Greenland. Perkiraan terbaru dari Worldometer per Januari 2026 populasi pulau terbesar ini hanya 55.696. Warga yang tinggal di Greenland merupakan suku bangsa Inuit yang pindah ke pulau tersebut pada abad ke XIII dan sering disebut sebagai penduduk asli Greenland. Sisanya 20% terdiri dari orang keturunan Denmark dan suku bangsa lain.
Kepadatan (densitas) penduduknya sangat tipis karena wilayah pulau yang dapat dihuni sangat sedikit akibat tertutup es sepanjang tahun. Dari 2.16 juta luas pulau, hanya 410.000 kilometer persegi yang layak huni.
Mengapa Greenland atau Pulau Hijau ramai diperbincangkan kalangan politik di Barat? Menurut penelitian para ahli perminyakan dan energi, di dalam tanah Greenland ada 31 mineral yang diincar oleh semua negara.

Secara de facto, Greenland memiliki kekayaan mineral yang sangat beragam dan dalam jumlah yang fantastis. Setidaknya, mineral yang dikandung di sana kini semakin mudah diakses akibat mencairnya lapisan es.
Mengapa menjadi viral dijadikan lelucon politik? Karena Greenland memiliki potensi memberikan keuntungan ekonomi dan komersial pagi pihak yang mampu mengolahnya bagi kepentingan industri dan perkembangan teknologi.
Pada awal 2026, ditemukan logam tanah yang jarang atau rare earth elements (REE), cadangannya mencapai 1.5 juta metrik ton atau 2% dari total dunia. Amerika memerlukan REE ini saat menyadari Tiongkok tidak memedulikan blokade Amerika Serikat terhadap produk dan teknologinya akibat menemukan cadangan REE yang sangat kaya.
Mineral berikutnya adalah litium, kobalt dan nikel yang merupakan komponen penting dalam penyelenggaraan baterai kendaraan bertenaga listrik. Selain itu mineral grafit yang digunakan untuk memproduksi baterai juga terdapat di Greenland. Mineral lainnya adalah niobium, hafnium dan zirconium yang merupakan komponen untuk pengembangan aplikasi teknologi.
Dalam tanah Greenland juga terdapat logam berharga dan logam dasar seperti emas, seng, dan perak yang tersebar di berbagai kawasan pulau.
Selain itu ditemukan pula endapan tembaga dan besi yang memiliki jumlah yang sangat besar di Pulau Hijau milik Kerajaan Denmark tersebut. Di daerah bernama Malmbjerg ditemukan mineral molibdenium yang dibutuhkan untuk membangun industri persenjataan.
Semua kekayaan tersebut tidak dikelola oleh Kerajaan Denmark karena mahalnya kegiatan ekstraksi mineral-mineral tersebut. Hal itulah yang membuat Amerika Serikat melihat kesempatan untuk memilikinya dengan cara transaksi jual beli.
Alasan ekstraksi mineral itu saja sudah merupakan hal yang mencukupi untuk memenuhi keinginan Amerika Serikat dalam menguasai Greenland di luar kepentingan komersialisme dan politis mereka. Namun, dalam kondisi alam yang mengalami musim dingin nyaris berlangsung selama 9 bulan terus menerus maka siapa pun penguasa Greenland akan menghadapi berbagai tantangan infrastruktur dan juga tingginya ongkos operasional ekstraksi semua logam tersebut. [R]