Petani Inggris Meletakkan Traktor Mereka Pada Posisi Strategis Di Berbagai Kota Di Negaranya Dengan Slogan Ini.
Selama berbulan-bulan lamanya, para petani di Eropa melakukan protes dan demo besar-besaran. Pada hari Kamis (15/01) kemarin, para petani Eropa utamanya dari Polandia, Irlandia, Belgia dan Prancis membuang kentang mereka dalam jumlah ribuan kilogram ke jalan-jalan dan alun-alun di Eropa.
Setelah berminggu-minggu para petani tersebut mengadakan berbagai protes dengan membawa traktor mereka ke ibukota baik London mau pun Prancis serta Berlin. Beberapa bahkan ada yang membuang berton-ton pupuk dari kotoran binatang ke berbagai kota. Mereka juga menutup alun-alun kota, dan bahkan jalan-jalan perbatasan antara negara untuk mencegat masuknya impor barang-barang pertanian ke negara mereka.
Apa yang membuat para petani itu marah? Faktanya, jumlah pertanian di Uni Eropa mencapai 9.000.000 di keseluruhan kawasan tersebut yang menyediakan lapangan kerja di bidang pertanian yang mencapai jumlah 8.700.000 di Uni Eropa.
Ada beberapa alasan. Yang terbaru adalah Pakta Kerja Sama Uni Eropa dengan Amerika Selatan. Uni Eropa memberikan komitmen untuk membeli kentang dari Brazil, Argentina, Paraguay dan Uruguay dengan harga yang sangat murah untuk pasar di negara anggota Uni Eropa.
Dalam perjanjian yang berlaku untuk 25 tahun tersebut, dan awalnya akan ditandatangani pada Sabtu (17/01) besok, maka semua hasil produksi pertanian dan peternakan akan membanjiri Uni Eropa baik itu daging sapi, daging ayam, gula, dan ethanol. Sebagai imbalannya, Uni Eropa akan menjual ke pada negara-negara Amerika Lain berbagai produksi mahal seperti anggur dan keju dengan potongan sebesar 91%.
Prancis, sebagai salah satu penghasil pertanian terbesar, telah memberikan protes mereka. Alasannya bahwa kehadiran barang-barang impor berkualitas rendah dari negara-negara Amerika Latin ini akan membahayakan kondisi produksi peternakan, daging sapi dan panenan di antara para petani negara tersebut.
Faktor protes berikutnya adalah karena para petani di negara-negara Uni Eropa menganggap semua aturan Uni Eropa justru mematikan para petani tersebut. Semua peraturan yang dikeluarkan oleh Uni Eropa mengatur berbagai standar dan kewajiban para petani.
Justru dengan perjanjian antara Uni Eropa dengan negara-negara Amerika Latin (Mercosur) terjadi perbedaan yang sangat menonjol dalam perlakuan Uni Eropa kepada para petani negara anggotanya. Para petani dan peternak di Uni Eropa wajib mengikuti berbagai aturan yang sangat ketat dan memiliki sanksi berat baik administrasi mau pun denda uang dalam jumlah besar. Para petani di Uni Eropa tidak diperkenankan melenceng sedikit pun dari pedoman Uni Eropa.
Sementara, semua barang dari Mercosur yang membanjiri negara Uni Eropa berkualitas rendah, yang bahkan di Eropa sendiri tidak dianggap sebelah mata. Maka, para petani Eropa menjadi frustrasi karena apa yang mereka lakukan dan taati tidak memiliki nilai bagi perekonomian mereka.
Para petani Prancis, Inggris, dan Jerman menganggap bahwa para pengambil keputusan di Brussel, ibukota Uni Eropa, sudah tidak memikirkan kepentingan para produser pangan. Terlebih tidak semua petani negara-negara Uni Eropa adalah petani yang kaya raya dan memiliki lahan yang luas. Banyak di antara mereka adalah petani skala kecil yang mewarisi profesi orang tua dan nenek moyang mereka dan memilih hidup dengan tenang di tengah pedesaan.
Melihat kemarahan para petani di Uni Eropa, maka kabar terbaru dari Jumat (16/01) disebutkan penandatanganan Kebijakan Agrikultur Bersama Uni Eropa diundur hingga bulan Februari 2026 yang akan datang. Para anggota Komisi Eropa bermaksud untuk mengkaji ulang dampak dari keputusan mereka.
Kebijakan Agrikultur Bersama dari Uni Eropa selama ini dibahas berdasarkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Uni Eropa. Di dalam kebijakan yang berlaku 2021-2027, €386.6 miliar telah dianggarkan untuk sektor agrikultur yang terbagi dua. Yang pertama sebesar €291.1 miliar untuk Dana Penjaminan Agrikultur Eropa yang dikatakan untuk mendukung pendapatan para petani. Yang ke dua adalah €95.5 miliar bagi Dana Agrikultur Eropa Bagi Pengembangan Desa, yang mencakup pendanaan daerah pedesaan, aksi iklim dan pengelolaan sumber daya alam.

Menanggapi protes para petani di berbagai anggota negaranya, Komisi Uni Eropa memberikan proposal yang diajukan pada 2024 dalam hal Kebijakan Agrikultur Bersama Uni Eropa.
Komisi Eropa adalah sebuah badan eksekutif yang independen dari Uni Eropa. Fungsinya adalah bertanggung jawab untuk membentuk peraturan perundang-undangan, melaksanakan ketetapan-ketetapannya, menjami pelaksanaan traktat Uni Eropa, serta mengelola anggaran pendapatan dan belanja Uni Eropa serta pembentukan kebijakan badan tersebut. Komisi Uni Eropa saat ini dipimpin oleh Ursula von der Leyen dan memiliki unit administrasi yang mendukung mereka.
Pada Mei 2025, para anggota Komisi Eropa memberikan keluwesan tentang kebijakan lingkungan hidup bagi para petani, mempermudah dan menyederhanakan sistem pembayaran bagi pertanian dan peternakan berukuran kecil dan sedang, mengurangi prosedur birokrasi bagi pertanian organik, menyederhanakan prosedur dalam mendukung pertanian yang terkena dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem, serta mengurangi kewajiban birokrasi bagi para pemerintah nasional (anggota Uni Eropa).
Dengan berbagai perubahan kebijakan yang apabila dibaca selintas terlihat cukup baik, mengapa para petani Eropa masih protes dan turun ke jalan-jalan?
Jawabannya cukup rumit dan tidak bisa hanya menunjuk satu dua faktor.
Prakteknya, para distributor dan para pedagang eceran berskala besar sering menekan para petani kecil saat membeli produk dengan berbagai persyaratan dengan alasan tunduk pada kebijakan Uni Eropa. Dengan adanya produksi impor yang murah dan tidak berkualitas membanjiri pasar Uni Eropa maka barang-barang produksi dalam negeri yang berkualitas tinggi justru tidak laku.
Setiap negara Eropa memiliki tradisi yang sudah turun temurun dan tidak bisa dijadikan satu keseragaman di dalam satu kebijakan pusat dari Uni Eropa, termasuk dalam bidang perindustrian mau pun pertanian dan peternakannya. Setiap negara memiliki kebiasaan dan adat istiadat negara dalam berjualan dan melakukan tindakan perdagangan dengan pihak pedagang eceran mau pun distributor. Sehingga kesatuan pengaturan ala Uni Eropa ini membuat semua tradisi tadi diterabas habis.
Contohnya adalah para petani dari daerah terpencil setiap minggu akan berdagang di kota terdekat dengan membuka lapak mereka di alun-alun kota tersebut. Mereka memiliki perjanjian dengan kota setempat, dan karenanya tidak perlu membayar berbagai pajak sebagaimana yang diwajibkan oleh Uni Eropa karena itu adalah bagian dari ekonomi setempat.
Produksi mereka juga asli berasal dari pertanian mereka dan hanya dikonsumsi masyarakat lokal. Dengan pola konsumsi seperti itu, keharusan sertifikasi menjadi biaya tambahan. Para petani tersebut juga bercocok tanam dan beternak sesuai keahlian mereka masing-masing dan dalam kualitas yang tinggi. Pemeriksaan kualitas (quality check) dilakukan oleh konsumen mereka. Fakta bahwa pelanggan mereka adalah tetangga mereka sendiri yang sudah pasti akan protes apabila hasil pertanian di bawah harapan sudah menjadi prosedur pemeriksaan kualitas yang cukup rumit. Para petani tersebut bertaruh nama baik atas kualitas produk mereka dari hari ke hari. Sehingga kewajiban mencapai standar Uni Eropa yang sangat tinggi menjadi beban tak perlu yang harus mereka tanggung.
Kebijakan Uni Eropa mengharuskan adanya sertifikasi ini dan itu, serta berbagai pembayaran pajak, kepatuhan terhadap berbagai pengaturan di bidang iklim serta lingkungan hidup. Suatu hal yang sangat memberatkan bagi para petani, peternak dan para penggiat di bidang pertanian dan semua produk turunannya.
Para petani Eropa tersebut menganggap keanggotaan negara mereka di dalam suatu zona ekonomi yakni Uni Eropa menjadi suatu beban yang terlalu berat untuk mereka tanggung. Terlebih lagi para pengambil keputusan di Komisi Uni Eropa itu bukanlah orang yang dipilih secara demokratis, melainkan hanya orang-orang yang ditunjuk berdasarkan pemilihan dari berbagai anggota parlemen Uni Eropa. Sehingga tidak mengherankan berbagai keputusan mereka tidak memperhitungkan tradisi dan kebiasaan dari negara lain dimana dia tidak berasal. [RV]
